Jumat, 29 Maret 2013

Konsep Sehat, Sejarah Kesehatan Mental dan Pendekatan Kesehatan Mental (Tulisan I)

KONSEP SEHAT



Kesehatan mental menurut UU No.3/1961 adalah suatu kondisi yang memungkinkan perkembangan fisik, intelektual, emosional yang optimal dari seseorang dan perkembangan itu berjalan selaras dengan keadaan orang lain. Sehat sebagai suatu spectrum, Pepkins mendefinisikan sehat sebagai keadaan keseimbangan yang dinamis dari badan dan fungsi-fungsinya sebagai hasil penyesuaian yang dinamis terhadap kekuatan-kekuatan yang cenderung menggangunya. Badan seseorang bekerja secara aktif untuk mempertahankan diri agar tetap sehat sehingga kesehatan selalu harus dipertahankan.

Kesehatan, di sisi lain adalah sesuatu hal yang disadari oleh manusia ketika hilang kesehatan  tersebut, dikurangi atau telah menjadi masalah yang lebih umumnya. Pekerjaan profesional dalam sistem kesehatan jauh lebih terfokus pada penyakit dan resiko kesehatan dari pada mempertahankan dan mempromosikan kesehatan itu pada diri sendiri. (Journal of Health Psychology, 2003) 




Memahami konsep kesehatan tidak pernah dapat dilepaskan dari pengaruh sejarah dan kemajuan kebudayaan. Sepanjang sejarah makna sehat dan sakit ternyata dipengaruhi oleh peradaban. Selain itu treatmen yang dilakukan juga disesuaikan dengan pemahaman terhadap kesehatan tersebut.

Budaya Barat dan Timur ternyata memiliki perbedaan yang mendasar mengenai konsep sehat-sakit. Perbedaan ini kemudian memengaruhi sistem pengobatan di kedua kebudayaan. Akibatnya, pandangan mengenai kesehatan mental juga berbeda. Namun dengan kemajuan teknologi dan komunikasi yang membuat relasi antar manusia semakin mengglobal, pertemuan antara kedua budaya ini tidak lagi dapat dihindari sehingga sekarang ini ditemui berbagai cara penanganan kesehatan yang mencoba mengintegrasikan sistem pengobatan antara kedua kebudayaan.  (Siswanto. 2007. Kesehatan Mental. Yogyakarta: Penerbit ANDI. 13-14)

Konsep kesehatan mental berhubungan erat dengan efisiensi menta, dan kadang-kadang kedua konsep tersebut disamakan. Sudah pasti kesehatan dalam bentuk apa pun merupakan dasar untuk efisiensi, dan Jones melihat efisiensi sebagai salah satu di antara ketiha segi kesehatan mental dan normalitas (kedua segi yang lain adalah kebahagiaan dan adaptasi terhadap kenyataan). Tetapi konsep efisiensi mempunyai arti sendiri, yakni pengunaan kapasitas-kapasitas untuk mencapai hasil sebaik mungkin dalam keadaan yang ada pada waktu itu. (Semiun, Yustinus OFM. 2006. Kesehatan Mental 1. Yogyakarta: Penerbit Kanisius. 48-49)
Ada hubungan yang jelas antara konsep penyesuaian diri dan kesehatan mental, tetapi hubungan tersebut tidak mudah ditetapkan. Pasti kesehatan mental merupakan kondisi yang sangat dibutuhkan untuk penyesuaian diri yang baik, dan demikian pula sebaliknya. Apabila seseorang bermental sehat, maka sedikit kemungkinan ia akan mengalami ketidakmampuan menyesuaikan diri yang berat. Kita dapt berkata bahwa kesehatan mental adalah kunci untuk penyesuaian diri yang sehat (Scott, 1961)

Sejaran kesehatan mencatat ternyata konsep sehat tidak jelas, lebih banyak ditemui konsep tentang sakit. Ini membuat pemahaman tentang sehat dan kesehatan juga mengalami kekacauan. Batasan tentang kesehatan yang tidak jelas mengakibatkan manusia tidak memiliki pegangan yang baku untuk mencapai derajat kesehatan yang harus dicapai.

Ada perbedaan antara model kesehatan Barat dengan model kesehatan Timur. Barat memandang kesehatan bersifat dualistik melihat tubuh manusia sebagai mesin dan dipengaruhi oleh dominasi media. Sementara Timur lebih bersifat hilistik, melihat kesehatan secara menyeluruh, saling mengait sehingga memengaruhi cara-cara penanganan terhadap penyakit.

Meskipun konsep sehat mental tidak lah jelas dan masik mengalami perkembangan, tapi ada beberapa ciri tingkah laku sehat menjadi ciri standar untuk menunjukkan sehat tidaknya individu melalui berbagai pendekatan dalam Kesehatan Mental. (Siswanto. 2007. Kesehatan Mental 1. Yogyakarta: Penerbit ANDI. 31)






SEJARAH KESEHATAN MENTAL

Sejarah kesehatan mental tidaklah sejelas sejarah ilmu kedokteran. Ini terutama karena masalah mental bukan merupakan masalah fisik yang dengan dapat dengan  mudah diamati dan terlihat. Orang dengan gangguan kesehatan mental sering kali tidak terdeteksi, sekalipun oleh anggota keluarganya sendiri. Hal ini lebih karena sehari-hari hidup bersama sehingga tingkah laku yang mengindikasikan gangguan mental. Dianggap hal yang biasa, bukan sebagai gangguan. (Siswanto. 2007. Kesehatan Mental 1. Yogyakart: Penerbit ANDI. 1)

Penyakit mental sama usianya dengan manusia. Meskipun secara mental belum maju, nenek moyang homo sapiens mengalami gangguan-gangguan mental seperti halnya dengan homo sapiens sendiri. Mereka dan keturunan mereka sangat takut akan predator. Mereka menderita berbagai kecelakaan dan demam yang merusak mental mereka, dan mereka juga merusak mental orang-orang lain dalam perkelahian-perkelahian. Sejak itu manusia dengan rasa putus asa selalu berusaha menjelaskan penyakit mental, mengatasinya dan memulihkan kesehatan mental. Mula-mula penjelasanya sederhana, ia menghubungkan kekalutan-kekalutan mental dengan gejala-gejala alam, pengaruh buruk orang lain, atau roh-roh jahat.(Semiun, Yustinus OFM. 2006. Kesehatan Mental 1. Yogyakarta: Penerbit Kanisius. 66)

Khusus untuk masyarakat Indonesia, masalah kesehatan mental saat ini belum begitu mendapat perhatian yang serius. Krisis yang saat ini melanda membuat perhatian terhadap kesehatan mental kurang terpikirkan. Orang masih fokus pada masalah kuratif, kurang memperhatikan hal-hal preventif untuk menjaga mental supaya tetap sehat. Tingkat pendidikan yang beragam dan terbatasnya pengetahuan mengenai perilaku manusia turut membawa kurangnya kepekaan masyarakat terhadap anggotanya yang mestinya mendapatkan pertolongan di bidang kesehatan mental. Faktor budaya sering membuat masyarakat memiliki pandangan yang beragam mengenai penderita gangguan mental. (Siswanto. 2007. Kesejatan Menatl 1. Yogyakarta: Penerbit ANDA. 1-2) 

Ada beberapa pandangan masyarakat terhadap gangguan mental di dunia Barat, antara lain adalah akibat kekuatan supranatural, dirasuk oleh roh/setan, dianggap kriminal karena memiliki derajat kebintangan yang besar, dianggap memiliki cara berpikir irasional, dianggap sakit, merupakan reaksi terhadap tekanan/stres, merupakan perilaku maladaptif, melarikan diri dari tanggung jawab. (Siswanto. 2007. Kesehatan Mental 1. Yogyakarta: Penerbit ANDA. 11)








PENDEKATAN KESEHATAN MENTAL



Orientasi Klasik

Pada umumnya digunakan dalam kedokteran termasuk psikiatri mengartikan sehat sebagai kondisi tanpa keluhan, baik fisik maupun mental. Orang yang sehat adalah orang yang tidak mempunyai keluhan tentang keadaan fisik dan mentalnya. Sehat fisik artinya tidak ada keluhan fisik. Sedangkan sehat mental artinya tidak ada keluhan mental. Dalam ranah psikologi, pengertian sehat seperti ini banyak menimbulkan masalah ketika kita berurusan dengan orang-orang yang mengalami gangguan jiwa yang gejalanya aalah kehilangan kontak dengan realitas. Orang-orang seperti itu tidak ada keluhan dengan dirinya meski hilang kesadaran dan tak mampu emngurus dirinya sendiri secara layak. Pengertian sehat mental dari orientasi klasik kurang memadai untuk digunakan dalam konteks psikologi. Mengatasi kekurangan itu dikembangkan pengertian baru dari kata "sehat". Sehat atau tidak adanya seseorang secara mental, belakangan ini lebih ditentukan oleh kemampuan penyesuaian diri terhadap lingkungan. Orang yang memiliki kemampuan menyesuaikan diri dengan lingkungan dapat digolongkan sehat mental. Sebaliknya orang yang tidak dapat menyesuaikan diri digolongkan sebagai tidak sehat mental.

Orientasi Penyesuaian Diri

Dengan menggunakan orientasi penyesuaian diri, pengertian sehat mental tidak dapat dilepaskan dari konteks lingkungan tempat individu hidup. Oleh karena itu kaitannya dengan standar norma lingkungan terutama norma sosial dan budaya, kita tidak dapat menentukkan sehat atau tidaknya mental seseorang dari kondisi kejiwaannya semata. Ukuran sehat mental didasarkan juga pada hubungan antara individu dengan lingkungannya. Seseorang yang dalam masyarakat tertentu digolongkan tidak sehat atau sakit mental bisa jadi dianggap senagat sehat mental dalam masyarakat lain. Artinya batasan sehat atau sehat mental bukan sesuatu yang absolut. Berkaitan dengan relativitas batasan sehat mental, ada gejala lain yang juga perlu dipertimbangkan. Kita sering melihat seseorang yang menampilkan perilaku diterima oleh lingkungan pada satu waktu dan menampilkan perilaku yang bertentangan dengan norma lingkungan di waktu lain. Misalnya melakukan agresi yang berakibat kerugian fisik pada orang lain pada saat suasana hatinya tidak enak tetapi sangat dermawan pada saat suasana hatinya sedang enak. Dapat dikatakan bahwa orang itu sehat mental pada waktu tertentu dan tidak sehat mental pada waktu lain. Lalu secara keseluruhan bagaimana kita menilainya? sehatkah mentalnya? atau sakit? orang itu tidak dapat dinilai sebagai ssehat mental dan tidak sehat mental sekaligus. 

Orientasi Pengembangan Potensi

Seseorang dikatakan mencapai taraf kesehatan jiwa, bila ia mendapat kesempatan untuk mengembangkan potensialitasnya menuju kedewasaan, ia bisa dihargai oleh orang lain dan sirinya sendiri. Dalam psiko-terapi (Perawatan Jiwa) ternyata yang menjadi pengendalian utama dalam setiap tindakan dan perbuatan seseorang bukanlah akal pikiran semata-mata, akan tetapi yang lebih penting dan kadang-kadang sangat menentukkan adalah perasaan. Telah terbukti bahwa tidak selamanya perasaan tunduk kepada pikiran, bahkan sering terjadi sebaliknya, pikiran tunduk kepada perasaan. Dapat dikatakan bahwa keharmonisan antara pikiran dan perasaanlah yang membuat tindakan seseorang tampak matang dan wajar. 

Sehingga dapat dikatakan bahwa tujuan Hygiene mental atau kesehatan mental adalah mencegah timbulnya gangguan mental dan gangguan emosi, mengurangi atau menyembuhkan penyakit jiwa serta memajukkan jiwa. Menjaga hubungan sosial akan dapat mewujudkan  tercapainya tujuan masyarakat membawa kepada tercapainya tujuan-tujuan perseorangan sekaligus. Kita tidak dapat menganggap bahwa kesehatan mental hanya sekedar usaha untuk mencapai kebahagiaan masyarakat, karena kebahagiaan masyarakat itu tidak akan menimbulkan kebahagiaan dan kemampuan individu secara otomatis, kecuali jika kita masukkan dalam pertimbangkan kita, kurang bahagia dan kurang menyentuh aspek individu, dengan sendirinya akan mengurangi kebahagiaan dan kemampuan sosial. (http://unpredictablepeople.wordress.com/2011/03/24/pendekatan-kesehatan-mental/. Diunduh pada tanggal 28/03/13)


 


 

Minggu, 25 November 2012

FINAL SOFTSKILL PSIKOLOGI DAN TEKNOLOGI INTERNET

FINAL SOFTSKILL PSIKOLOGI DAN TEKNOLOGI    INTERNET


PUBLIKASI ONLINE 

Secara terminologi, publikasi berarti penyiaran, pengumuman atau penerbitan. Ton Kertapati menjelaskan dalam bukunya "Dasar-dasar Publitik Dalam Perkembanyannya di Indonesia Menjadi Ilmu Komunikasi" bahwa istilah publistik berasal dari katkerja bahasa Latin yaitu publicare yang ber
arti mengumumkan. Kesimpulannya bahwa publikasi dapat diartikan menjadi pengumuman tetang suatu hal yang disiarkan lewat media elektronik atau media cetak.

Sedangkan pengertian dari online adalah suatu kegiatan yang berhubungan dengan internet. Segala sesuatu yang dilakukan dengan menggunakan internet ddisebut online,. Misalnya, bermain game yang menggunakan koneksi internet disebut game online. 

Jadi apa itu publikasi online?
Publikasi online adalah penyiaran, pengumuman, atau penerbitan kepada khalayak luas melalui media koneksi internet. Dalam hal ini, publikasi yang dilakukan bisa bermacam-macam jenisnya. Misalnya, mempublikasikan iklan di internet. Kita bisa mempublikasikan iklan apapun di sana dan pasti akan banyak sekali orang-orang yang akan melihat.

Apa keuntunganyang didapat dari publikasi online?
- memudahkan kita untuk menapatkan informasi secara cepat an dalam waktu yang bersamaan . Misalnya,  Anda sedang mencari info mengenai Band kesukaan Anda di internet. Setelah website sudah dibuka,ternyata ada iklan terpampang mengenai penjualan tiket online konser Band favorit Anda tersebut. 
- memuahkan pihak yang ingin mempublikasikan suatu informasi. Karena dewasa ini, sudah sebagian besar orang menggunakan internet setiap hari nya. Sehingga, mau tidak mau para pengguna internet dapat dengan mudah melihat iklan yang dipublikasikan tersebut dan otomatis sifat mempublikasian ini sangat cepat, mudah dan efektif.

Apa kerugian dari publikasi online ?
-kerugian yang paling utama adalah, ulah dari orang-orang yan tidak bertanggungjawab sepeti mempublikasikan gambar-gambar yang berbau pornografi. Hal ini pasti sangatlah merugikan, karena sekarang ini yang menggunakan internet bukan hanya orang yang bekerja tapi anak-anak juga. Sayang sekali jika tunas bangsa sudah dicekoki oleh gambar-gambar yang bisa merusak moral mereka.
- kerugian lainnya, orang menjadi pasif di internet karena semua yang mereka inginkan ada di internet. Otomatis, adanya pengurangan angka minat baca buku atau koran dan media lain yang biasa digunakan sebagai media publikasi.

Pesan untuk para pempublikasi, agar lebih bisa memilah-milah apa yang dipublikasikan agar disatu sisi berguna untuk penulis dan berguna pula untuk konsumen internet.

Daftar Pustaka :
http://id.shvoong.com/social-science/counseling/2205694-pengertian-publikasi/
http://www.politik.lipi.gi.id/index.php/in/kegiatan/tahun-2010/170-workshop-publikasi-online
http://carapedia.com/pengertian_definisi_online_info2193.html


ETIKA DALAM MENGGUNAKAN INTERNET

Internet adalah jaringan komputer yang terhubung secara gobal i seluruh dunia dimana memungkinkan setiap komputer berbagai data dengan menggunakan standar Internet Protocolp Suite.

Seiring dengan perkembangan internet yang sangat  pesat dan tersentralisasi. Dengan merebaknya warnet maka semua lapisan masyarakat tidak diberikan sosialisasi atau pun penyuluhan tentang etika dan tata cara menggunakan internet yang aman, maka sering terjadi pelanggaran-pelanggaran moral dalam penggunaan internt tersebut seperti menggunakan kata-kata kasar, pelanggaran hak cipta, dan pornografi.

Hal-hal tersebut adalah isu-isu yang terjadi di masyarakat yang awam terhadap penggunaan internet. Sedangkan pelanggaran-pelanggaran yang sering terjadi di kalangan pakar IT adalah hacking dan cracking.

Dengan merebaknya isu-isu seperti itu maka internet pun memiliki etika tersendiri yang biasanya berlaku di komunitas ataupun forum-forum yang disebut Nettiquette atau netiket. Alasan mengapa internet memberikan dampak besar dalam segala aspkehidupan adalah sebagai berikut :

1. Informasi i Internet dapat diakses 24 jam
2. Biaya relatif murah dan bahkan gratis
3. Kemudahan akses inforasi dalam melakukan transakasi.
4. Kemudahan membangun relasi dengan pelanggan
5. Materi dapat di upgade dengan mudah
6. Penggunaan intrnet telah merambah ke segala penjuru dunia

Karakteristik dunia maya menurut Dysson, 1994:

1. Beroprasi secara virtual / maya
2. Dunia Cyber selalu berubah dengan cepat
3. Dunia maya tidak mengenal batas-batas teritorial
4. Orang-orang yang giup dalam dunia maya dapat melaksanakan aktivitasnya tanpa menunjukkan ientitas
5. Informasi di dalamnya bersifat publik

Pentingnya etika dalam menggunakan internet aalah sebagai berikut :

1. Bahwa pengguna internet berasal dari berbagai negara yang mungkin memiliki budaya, bahasa, dan adat istiadat yang berbeda-beda. Penggun internet merupakan orang-orang yang hidup dalam dunia anonymouse, yang tidak mengharusan pernyataan identitas asli dalam berinterkasi.

2. Berbagai macam fasilitas yag diberikan dalam internet memungkinkan seseorang untuk bertindak etis seperti misalnya adajuga penghuni yang suka iseng dengan melakukan hal-hal yang tidak seharusnya dilakukan

3. Harus diperhatikan bahwa pengguna internet akan selalu bertambah setiap saat dan memungkinkan masuknya penghuni baru di dunia maya tersebut.

Jadi etika dalam menggunakan internet disini adalah forum-forum yang bersifat umum dimana banyak orang atau pihak tidak dikenal yang terlibat. Jika hanya berinteraksi dengan teman sendiri yang sudah akrab, mungkin ini tidak jadi masalah mengingat si teman pun sudah hafal karakter masing-masing, tetapi tentu saja tetap harus ada batas-batas yang tidak boleh dilampaui.

Dibawah ini adalah etik-etika aam menggunakan internet yaitu sebagai berikut :

1. Jangan menyindir, menghina, melecehkan, atau menyerang pribadi seseorang / pihak lain
2.  Jangan sombong, angkuh, sok tahu, sok hebat, merasa paling benar, egois, berkata kasar, kotor dan hal-hal buruk lainnya yang tiak bisa diterima orang lain.
3. Menulis sesuai dengan aturan penulisan baku. Artinya jangan menulis dengan huruf kapital semua karena dianggap sebagai ekspresi marah atau penuh dengan singkatan-singkatan tidak biasa dimana orang lain mungkin tidak mengerti maksudnya bisa menimbulkan salah pengertian.
4. Jangan mengekspose hal-hal yang bersifat pribadi, keluarga dan sejenisnya yang bisa membuka peluang orag tidak bertanggung jawab memanfaatkan itu.
5. Perlakukan pesan pribai yang diterima dengan tanggapan yang bersifat pribadi juga, jangan diekspose ke forum.
6. Jangan turut menyebarkan suatu berita / informasi yang sekiranya tidak logis dan belum pasti kebenarannya, karena bisa jadi berita tersebut adalah berita bohong. Selain akan mempermalukan diri sendiri, orang lainpun bisa tertipu dengan berita dan info itu bila ternyata hanya sebuah hoax.
7. Andai mau menyampaikan saran dan kritik lakukan engan personal messages, jangan lakukan di depan forum karena bisa membuat orang lain tersinggung atau rendah diri.
8. Selalu memperhatikan hak atas kekayaan intelektual (HAKI). Artinyajangan terlibat dalam aktivitas pencurian/penyebaran data dan informasi yang memiliki hak cipta.
9. Jika mengutip suatu tulisan atau gambar, atau apapun yang bia/diijinkan untuk dipublikasikan ulang, selalu tuliskan sumber aslinya.
10. Jangan pernah memberikan nomor telpon, alamat email atau informasi yang bersifat pribadi lainnya milik teman kepada pihak lain tanpa persetujuan teman itu sendiri.

Oleh karena itu sebelum berinternet hendaknya kita mematuhi peraturan ini terlebih dahulu :

1. Sebelum memulai untuk bersurfing di internet, ingatlah apa-apa yang hendak dikerjakan di internet. Tentukan berapa jam anda ingin main, dan situs mana yang harus anda buka. Ingat, internet itu adalah candu bagai rokok. Anda akan terbenging-benging di depan layar pc karena anda menyukai keindahan internet.
2. Jangan pernah membuka situs-situs yang aneh-aneh. Selain tidak baik untuk kesehatanfisik, mental an rohani juga membahayakn komputer anda, karena biasanya situs yang aneh-aneh mengandung banyak cirus berbahaya.
3. Usahkan untuk menginstall software yang mampu memfilter situs-situs aneh
4. Jangan mudah percaya pada orang-orang di dunia maya. Alangkah baiknya jika data-data pribadi anda tiak pernah ditayangkan di dunia maya.

Daftar Pustaka :

http://rahayupuji789.blogspot.com/2011/12/etika-berinternet.html
http://curanblog.blogpot.com/2012/10/etika-dalam-menggunakan-internet.html
http://ekskulsmp3.blogspot.com/p/etika-dalam-menggunakan-internet.html
http://m.kompasiana.com/post/terapan/2010/10/20/etika-menggunakan-internet/
http://etika-berinternetkelompok2.blogspot.com/2012/04/800x600-normal-0-false-false-false-in-x.html


JURNAL PENELITIAN : PERILAKU PENGGUNAAN INTERNET pada KALANGAN REMAJA di PERKOTAAN.
Oleh : Astutik Nur Qomariyah
Mahasiswa S1 Departemen Informasi dan Perpustakaan, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Airlangga Surabaya.


Kemudahan pada fasilitas akses internet dan semakin canggihnya fasilitas yang itawarkan oleh internet di era teknologi informasi dan komunikasi saat ini didampingi oleh munculnya fenomena yang menunjukkan minat tinggi untuk anak muda perkotaan dalam menggunakan internet. Dari fenomena ini penelitian telah dilakukan sebelumnya pada penggunaan internet terhadap remaja perkotaan di Indonesia, yang sudah ketinggalan jaman dalam arti waktu melakukan penelitian dan topik. Penelitian ini telah dilakukan sewaktu internet belum ada di sekolah-sekolah. Topiknya adalah tentang hubungan antara motif penggunaan internet an kepuasan konsumen, pengaruh internet sebagai media komunikasi interaktif, dampak neatif dari penggunaan internet pada taraf kehidupan sosial titik pandang psikologis. Sebaliknya penelitian ini, saya inngin menekankan ada mengidentifikasi bagaimana remaja perkotaan mengetahui dan menggunakan internet pada saat pertamma untuk mengambil keuntungan internet yang meliputi intensitas penggunaan internet, kegiatan apa yang dilakukan di internet, termasuk  manfaat apa dalam melakukan aktivitas online. Temuan penelitian menunjukkan bahwa kelompok sebaya merupakan salah satu aktor yang berpengaruh kepada pemuda untuk memanfaatkan internet untuk pertama kalinya. Kelompok sebaya bertindak sebagai mentor tentang bagaimana memanfaatkan internet yang hanya untuk bersenang-senang atau akademisi.Pemuda biasanya menggunakan internet dirumah daipada di internet publik/sewa yang menggunakan internet untuk mencari informasi, kegiatan rekreasi, berkomunikasi dan transaksi fiancial. Penggunaan sebagian besar internet bagi mereka adalah rtike luang an pencarian mengenai tugas akademis mereka.

Tidak sepertiorang dewasa yang pada umumnya sudah mampu memfilter hal-hal baik ataupun buruk dari internet, remaja sebagai salah satu pengguna internet justru sebaliknya. Selain belum mampu memilah aktivitas internet yang bermanfaat, mereka jua cenderung mudah terpengaruh oleh lingkungan sosial mereka tanpa mempertimbangkan terlebih dahulul efek negatif atau positif yang akan diterima setelahh melakukan aktivitas internet tertentu.

Bagi kalangan remaja Indonesia, khususnya remaja tingkat SMP dan SMA, internet sudah tentu bukan hal yang asing lag, terutama bagi remaja di perkotaan. Terlihat dari survei terbaru diadakan oleh Spire Research dan Consulting yang bekerja sama dengan Majalah Marketing (2008) mengenai tren dan kesukaan remaja Indonesia terhadap berbagai jenis kategori, salah satu kategorinya adalah media, ditemukan bahwa remaja sudah mengerti dan menggunakan internet dalam kegiatan sehari-hari. Survei yang dilakukan di lima kota besar Indonesia (Jakarta, Semarang, Surabaya, Medan dan Makassar) tersebut melibatkan 1.000 responden yang berumur 13-18 tahun atau masih duduk di bangku SMP atau SMA.

Pertanyaan penelitian :
1. Bagaimana kalangan remaja di perkotaan mengenal dan menggunakan internet pertama kalinya?
2. Bagaimanakah intensitas penggunaan internet pada kalangan remaja di perkotaan?
3. Untuk kepentingan apa sajakah kalangan remaja di perkotaan menggunakan internet ?

Memasuki masa remaja ini, seseorang mulai mengalami beberapa perkembangan kognitif dan sosial dalam diri individu yang akan mempengaruhi perilaku, sikap dan nilai-nilai sepanjang masa remaja (Mukhtar, dkk:2003). Terkait dengan hadirnya internet yang telah terintegrasi dalam kehidupan keseharian mereka, perubahan perkembangan kognitif dan sosial pada remaja ini tentunya juga akan menjadi salah satu faktor yang dapat mempengaruhi perilaku mereka dalam menggunakan internet.

Mukhtar (2003) mendefinisikan perubahan perkembangan kognitif adalah perubahan proses berpikir masa anak-anak yang berorientasi konkrit menjadi proses berpikir tahapan yang lebih tinggi, yaitu kemampuan mengembangkan pikiran secara abstrak. 

Walaupun remaja telah mencapai tahap perkembangan kognitif yang memadai untuk menentukkan tindakannya sendiri, namun penentuan diri remaja dalam berperilaku banyak dipengaruhi oleh tekanan dari kelompok teman sebaya (peer group). Hal ini karena perkembangan sosial pada masa remaja lebih banyak melibatkan kelompok teman sebaya dibanding orangtua. Dibanding pada masa kanak-kanak,remaja lebih banyak melakukan kegiatan di luar rumah seperti kegiatan sekolah, ekstrakurikuler dan bermain dengan teman (Papalia dan Olds: 2001). Untuk itu, tidak mengherankan jika kelompok teman sebaya dijadikan sumber referensi utama bagi remaja dalam hal persepsi dan sikap yang berkaitan dengan haya hidup(life style). Bagi remaja, teman-teman menjadi sumber informasi misalnya mengenai bagaimana cara berpakainan yang menarik, musi atau film apa yang bagus, dan sebagainya (Conger, 1991).

Dari hasil penelitian yang dilakukan peneliti ditemukan bahwa dari kelompok usia, sebagain besar responden mengaku pertama kali mengenal dan menggunakan internet pada saat mereka berusia 12 tahun (36,5%). Lalu, dari sejumlah alasan yang mendorong responden saat pertama kali menggunakan internet ditemukan bahwa mencari bahan atau sumber untuk menyelesaikan tugas sekolah merupakan alasan yang mendominasi responden saat pertama kalinya ingin menggunakan internet (40,6%). Selanjutnya diketahui juga bahwa dari segi sumber pembelajaran saat pertama kali menggunakan internet, sebagian besar responden berinternet dari teman mereka. Hasil dari teman-teman tersebut belim mampu menggambarkan kecenderungan sebenarnya tenantg gambaran kalangan remaja di perkotaan dalam mengenal dan menggunakan internet pertama kalinya. 

Kesimpulan :
Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan peniliti mngenai perilaku penggunaan internet pada kalangan remaja di perkotaan dengan berdasarkan pertanyaan penelitian yang telaj diajukan, maka peneliti dapt menyimpulkan tiga hasil temuan penelitian. Pertama, usia responden saat pertama kali mengenal dan menggunakan internet ialah 12 tahun. Rata-rata saat itu mereka telah memasuki kelas VII SMPP, dimana tugas-tugas sekolah yang diberikan mulai mengharuskan mereka mencari sumber atau bahan-bahannya di internet sehingga mereka dituntut untuk bisa menggunakan internet. Sebagian besar remaja perkotaan dalam penelitian ini mengungkapkan bahwa teman sebaya dijadikan sebagai sumber belajar pertama kali berinternet bagi mereka, baik untuk aktivitas tertentu atau hanya untuk bersenang-senang.

Berdasarkan aspek intensitas penggunaan internet, sebagian besar remaja perkotaan lebih sering mengkases internet di warnet meskipun di sekolah mereka terdapat fasilitas internet yang dapat dimanfaatkan secara free. Frekuensi internet yang digunakan bagi remaja perkotaan yang sering mengakses internet di rumah cenderung lebih sering dengan durasi setiap kali mengakses internet lebih lama dibandingkan dengan remaja perkotaan yang mengakses internet ditempat lainnya seperti warnet, sekolah atau wifi area. 

Kalangan remana di perkotaan menggunakan internet untuk empat dimensi kepetingan, yaitu informasi, aktivitas kesenangan, komunikasi, dan transaksi. Meskipun dari keempat kepentingan penggunaan internet tersebut aktivitas-aktivitas internet yang dilakukan kalangan remaja di perkotaan lebih banyak ditujukan untuk aktivitas kesenangan dari pada untuk kepentingan lainnya, namun aktivitas internet yang paling banyak dilakukan mereka adalah mencari sumber atau bahan terkait dengan tugas atau pelajaran sekolah. 


Game Online

Game online yang saya mainkan selama tiga hari berturu-turut adalah Temple Run. Game ini berbasis Android dan menggunaka akses internet. Game ini menggunakan sensor gerak untuk menggerakan ke kanan dan kiri. Kemudian kita harus mempertahankan objek pada game tersebut untuk terus berlari sejauh mungkin dan mengambil koin emas, biru, dan merah sebanyak mungkin. Dengan bertambah nya skor bermain, kita dapat mengupgrade kekuatan lari serta senjata-senjata lain dengan cara membelinya dengan skor kita. Dalam tiga hari, saya memperoleh skor 1. 548.500. 

Keuntungan :
Game ini sangat memicu adrenalin, karena kalo kita telat menggerakan ke kanan atau ke kiri maka objek akan terjatuh dan mengeluarkan suara seperti orang terjebur laut, menabrak pohon dan terpeleset.

Kerugian :
Game ini sangat membuat kecanduan, sekali kita tidak tepat membelokkan kemudian menyebabkan game over maka kita akan terus penasaran ingin memainkan game itu dan sampai mencapai skor tertinggi. Kecanduan ini maka akan berdampak pada waktu. Waktu akan habis karena kecanduan game ini, dan kita lupa untuk mengerjakan pekerjaan lain yang lebih penting 











































































Minggu, 04 November 2012

CSCW



Computer Supported Cooperative Work (CSCW)
Istilah computer supported cooperative work pertama kali digunakan oleh Irene Greif dan Paul M. Cashman pada tahun1984, pada sebuah workshop yang dihadiri oleh mereka yang tertarik dalam menggunakan teknologi untuk memudahkan pekerjaan mereka. Pada kesempatan yang sama pada tahun 1987, Dr. Charles Findley mempresentasikan konsep collaborative learning work. CSCZ mengangkat isu seputar bagaimana aktivitas-aktivitas kolaboratif dan koordinasi didalamnyadapat didukung teknologi computer, Beberapa orang menyamakan CSCW dengan groupware, namun yang lain mengatakan bahwa groupware merujuk kepada wujud nyata dari system berbasis computer, sedangkan CSCW berfokus pada studi mengenai kakas dan teknik groupware itu sendiri, termasuk di dalamnya efek yang timbul secara psikologi maupun sosial. Definisi yang diajukan mempertegas perbedaan di antara dua konsep ini :
“CSCW adalah sebuah istilah generic, yang menggabungkan pengertian bagaimana orang bekerja dalam sebuah kelompok dengan teknologi pendukung berupa jaringan computer, perangkat keras, perangkat lunak terkait, layanan, teknik”
Salah satu contoh system CSCW ini adalah electronis mail (email). Email merupakan system CSCW yang bersifat asynchronous yang tidak mengharuskan user bekerja pada waktu yang bersamaan. Penerima mail tidak harus membuka suratnya pada waktu yang sama dengan terkirimnya surat. Sebaliknya system CSCW synchronous membutuhkan partisipasi simultan dari para usernya. Perbedaan utama antara aspek sosial kelompok dari user yang tergabung. Sistem CSCW dibangun untuk memungkinkan interaksi antara user melalui computer sehingga kebutuhan sekian banyak user tersebut terpenuhi dalam satu produk.
CSCW memiliki tujuan yaitu :
1.mempelajari bagaimana orang bekerja sama sebagai kelompok dan apa yang mempengaruhi teknologi
2.mendukung proses pelaksanaan pekerjaan walaupun secara geografis dipisahkan
3.kolaborasi para ilmuwan yang bekerja sama pada suatu proyek
4.pengarang mengedit suatu dokumen bersama-sama
5.programmer suatu system secara bersamaan
6.Bekerja sama sebagai sharing atas suatu video bersama yang conferencing aplikasi
7.para pembeli dan para penjual melakukan secara eBay

Daftar Pustaka :