Selasa, 03 Desember 2013

Psikologi Lintas Budaya

Psikologi Lintas Budaya : Intelegensi Budaya Barat dan Timur

A. Lintas Budaya 

Lintas budaya dapat dipelajari melalui pendidikan dalam keluarga, sosialisasi nilai-nilai dalam masyarakat baik melalui pergaulan sosial maupun media, dan melalui pembelajaran multikultur, yaitu pembelajaran yang dapat menfasilitasi peserta dalam memahami materi pembelajaran tanpa adanya kendala perbedaan latar belakang kultural (Bryant dalam Mendatu, 1996) dan pemahaman akan keberagaman dan penghargaan akan perbedaan, serta bagaimana bersikap dan bertindak dalam situasi multietnik-multikultur (Matsumoto dalam Mendatu, 1996).
Berbicara budaya adalah berbicara pada ranah sosial dan sekaligus ranah individual. Pada ranah sosial karena budaya lahir ketika manusia bertemu dengan manusia lainnya dan membangun kehidupan bersama yang lebih dari sekedar pertemuan-pertemuan insidental. Dari kehidupan bersama tersebut diadakanlah aturan-aturan, nilai-nilai kebiasaan-kebiasaan hingga kadang sampai pada kepercayaan-kepercayaan transedental yang semuanya berpengaruh sekaligus menjadi kerangka perilaku dari individu-individu yang masuk dalam kehidupan bersama. Semua tata nilai, perilaku, dan kepercayaan yang dimiliki sekelompok individu itulah yang disebut budaya.
Pada ranah individual adalah budaya diawali ketika individu-individu bertemu untuk membangun kehidupan bersama dimana individu-individu tersebut memiliki keunikan masing-masing dan saling memberi pengaruh. Ketika budaya sudah terbentuk, setiap individu merupakan agen-agen budaya yang memberi keunikan, membawa perubahan, sekaligus penyebar. Individu-individu membawa budayanya pada setiap tempat dan situasi kehidupannya sekaligus mengamati dan belajar budaya lain dari individu-individu lain yang berinteraksi dengannya. Dari sini terlihat bahwa budaya sangat mempengaruhi perilaku dan pola pikir individu auau aspak konitifnya.
Budaya telah menjadi perluasan topik ilmu psikologi di mana mekanisme berpikir dan bertindak pada suatu masyarakat kemudian dipelajari dan diperbandingkan terhadap masyarakat lainnya. Psikologi budaya mencoba mempelajari bagaimana faktor budaya dan etnis mempengaruhi perilaku manusia. Di dalam kajiannya, terdapat pula paparan mengenai kepribadian individu yang dipandang sebagai hasil bentukan sistem sosial yang di dalamnya tercakup budaya. Adapun kajian lintas budaya merupakan pendekatan yang digunakan oleh ilmuan sosial dalam mengevaluasi budaya-budaya yang berbeda dalam dimensi tertentu dari kebudayaan.

B. Intelegensi 

Kecerdasan merupakan sesuatu yang dibawa manusia sejak lahir dan dibentuk dalam lingkungan seiring dengan perkembangan hidup manusia. Setiap manusia memiliki tingkat kecerdasan yang berbeda-beda dari tingkat kecerdasan yang very superior sampai mental defective. 

Intelegensi atau kecerdasan berasal dari baha latin intellegentia, yang pertama kali  digunakan oleh seorang ahli pidato dari romawi yaitu Cicerio. Orang Amerika memandang intelegensi adalah sejumlah kemampuan, keahlian , talenta, dan pengetahuan  yang keseluruhannya merujuj pada kemampuan kognitif dan proses mental. 

Menurut David Wechsler, intelegensi adalah kemampuan untuk bertindak secara terarah, berpikir secara rasional, dan menghadapi lingkungannya secara efektif.
        
Menurut Edward Lee Thorndike intelegensi adalah kemampuan dalam memberikan respon yang baik dari pandangan kebenaran atau fakta (Wilson dalam Azwar, 2004: 6)
 Menurut Alfred binet mendefinisikan intelegensi terdiri dari tiga komponen yaitu kemampuan untuk mengarahkan fikiran atau mengarahkan tindakan, kemampuan untuk mengubah arah tindakan bila tinadakan itu telah dilaksanakan, dan kemampuan untuk mengkritik diri sendiri atau melakukan autocraticism (Azwar, 2004: 5)
 David Wechsler mula-mula mengatakan bahwa intelegensi intelegensi sebagai kapasitas untuk mengerti lingkungan dan kemampuan akal budi untuk mengatasi tantangan-tantangannya. pada kesempatan yang lain ia juga mengatakan bahwa intelegensi adalah kemampuan untuk bertindak sacara terarah, berfikir secara rasional dan menghadapi lingkungan secara efektif (Irwanto, 2002: 166-167).
B.        Teori-Teori Kecerdasan
 Alfred Binet termasuk salah satu ahli psikologi yang pertama kali berhasil merancang semacam alat ukur yang tujuan awalnya adalah untuk memperkirakan anak-anak mana yang sukses dan gagal pada sekolah dasar di Paris.
Thorndike mengatakan bahwa formulasi dari tiga kemampuan dalam intelegensi yaitu kemampuan abstraksi, mekanik dan social adalah tiga bagian yang tidak terpisahkan secara eksklusif dan juga tidak selalu  berkolerasi satu sama lain dalam diri seseorang. Thorndike juga percaya bahwa tingkat kecerdasan seseorang bergantung pada banyaknya ikatan syaraf antara rangkaian stimulus dan respon dikarenakan penguatan yang dialami seseorang.
 Howard Gardner memperkenalkan teori kecerdasan majemuk atau Multiple Intelligences ada delapan jenis kecerdasan yaitu sebagai berikut: Kecerdasan linguistic (word smart) yaitu kemampuan menggunakan kata-kata secara efektif, kecerdasan logis-matematis (number smart) yaitu kemampuan untuk mengolah angka dan atau kemahiran menggunakan logika atau akal sehat, kecerdasan spasial (picture smart) yaitu kemungkinan memvisualisasi gambar di dalam kepala seseorang atau menciptakannya dalam bentuk dua atau tiga dimensi, kecerdasan kinestetik-jasmani (body smart) yaitu kemampuan seseorang untuk mengkoordinasikan kemampuan motorik tubuhnya, kecerdasan musical (music smart) yaitu kemampuan menyanyikan sebuah lagu, mengingat melodi musik, mempunyai kepekaan irama atau sekedar menikmati musik, kecerdasan antar-pribadi (people smart) yaitu kemampuan untuk memahami dan bekerja dengan orang lain, kecerdasan intra-pribadi (self smart) yaitu kemapuan memahami diri sendiri dan mengetahuai siapa diri yang sebenarnya, kecerdasan naturalis (nature smart) yaitu kemampuan mengenali bentuk-bentuk alam sekitar kita dan mencakup kepekaan terhadap bentuk-bentuk alam yang lain.
C.        Faktor-Faktor yang mempengaruhi kecerdasan
            Menurut irwanto ada dua factor yang mempengaruhi kecerdasan, yaitu:
1.      Pengaruh factor bawaan
Faktor bawaan disebut juga factor keturunan atau factor herediter.
2.      Pengaruh factor lingkungan
Walaupun ada ciri-ciri yang pada dasarnya sudah dibawa sejar lahir, tetapi ternyata lingkungan sanggup menimbulkan perubahan-perubahan yang berarti. Kecerdasan tentunya tidak lepas dari otak, dengan kata lain perkembangan organic otak akan sangat mempengaruhi tingakt intelegensi seseorang. di pihak lain, perkembangan otak sangat dipengaruhi oleh gizi yang dikonsumsi, oleh karena itu ada hubungan antara pemberian makanan bergizi denganintelegensi seseorang. Pemberian makanan bergizi merupakan salah satu pengaruh lingkungan yang sangat penting.
D.                            Perbedaan budaya dalam memahami intelegensi
            Ketika kajian intelegensi dibawa  melintas budaya masalah yang pertama diketemukan ternyata bahawa tidak semua budaya dalam bahasanya memiliki kosakata yang memiliki makna yang sama dengan makna intelegensi yang selama ini dipahami oleh psikolog barat. Diyakini perbedaan pengertian intelegensi ini merupakan refleksi dari nilai-nilai budaya tersebut dalam bahasa cina intelegensi dipahami sebagai otak yang baik dan bertalenta, kemampuan yang terlingkup didalamnya adalah kemampuan meniru, berusaha, dan bertanggung jawab secara social. Komponen-komponen ini dalam psikogi barat sering diabaikan dalam kompenen intelegensi. Contoh lain adalah apa yang ada di suku baganda di Afrika timur. Mereka menggunakan kata ‘abugezi’ yang merujuk pada kemampuan mental dan social  yang menjadikan seseorang kokoh, berhati-hati, dan bersahabat.
            Djerma/ Suhnai di Afrika barat menggunakan istilah yang memikili makna yang lebih luas, lakkal yang merupakan kombinasi dari pintar, mengetahui bagaimana, dan keterampilan sosial. Pada suku Baoule di Afrika barat, terdapat kosa kata yang memiliki arti paling dekat dengan intelegensi taitu nglouele yang dipahami sebagai seseorang yang bermental tajam (waspada) sekaligus sukarela memberikan pelayanan mereka tanpa diminta (Wobeer dalam Dayakisni, 2003: 200-201).
Perbedaan pemaknaan ini menjadikan usaha pengkajian dan perbandingan intelegensi dalam kerangka lingtas budaya menjadi sangat sulit. Apa yang dikatakan sebagai kecerdasan bagi orang barat adalah kemampuan matematika namun tidak bagi orang suku lain yang mungkin menganggap kecerdasan adalah kemampuan berburu atau melakukan adaptasi social.  Kesulitan perumusan definisi kecerdasan ini juga berimplikasi pada kesulitan pengukuran intelegensi yang tepat. Sangat mungkin jika alat tes hanya cocok untuk dikatakan mengukur intelegensi pada suatu budaya tapi tidak pada budaya lain (Matsumoto, dalam Dayakisni 2003: 201).
Dengan demikian, adanya perbedaan dalam skor intelegensi diantara kelompok-kelompok budaya barangkali merupakan akibat atau hasil dari hasil:
  1. Perbedaan keyakinan tentang apa yang disebut dengan intelegensi itu, atau
  2. Ketidaktepatan pengukuran intelegensi terkait budaya.
Beberapa tes mungkin tidak mengukur motivasi, kreativitas, atau keterampilan sosial. yang mana hal ini adalah faktor-faktor yang penting dalam intelegensi menurut masyarakat cina.
Permasalahan yang kedua yang menarik perhatian para pemerhati psikologi lintas budaya adalah apakah perkembangan intelegensi manusia berlangsung dalam tahapan yang universal dalam tahapan lintas budaya. Salah satu teori yang menjelaskan perkembangna intelegensi manusia adalah teori Peageot. Berdasarkan teorinya pada observasi anak-anak swiss. Peageot mengemukakan bahwa anak-anak mengalami kemajuan kognitif melaluai empat tahapan sejak mereka bagi sampai dewasa, umumnya kajian yang dilakukan untuk menjawab pertanyaan kedua di atas adalah berpandukan hasil penelitiannya pada masyarakat Eropa. Apakah teori Peageot juga dapat menjelaskan tahap perkembangan intelegensi pada anak-anak yang datang dari non Eropa adalah pertanyaan yang muncul dan merangsang Perez untuk melakukan penelitian. Penelitian Perez 1988 yang melakukan penetesan pada anak-anak di Inggris, australia, Yunani dan Pakistan, menunjukna bahwa anak-anak yang sekolah dalam masyarakat yang berbeda menampilkan mencapaian kemamupan direntang usia yang sama sampai tahap operasional konkrit. Merskipun demikai, berdasarkan studi kumparatif pada anak-anak suku Unuit di Kanada, Bau’ul di afrika dan Aranda di australia, ada variasi budaya dalam usia duimana anak-anak pada masyarakat yang berbeda mencapai tahap tertentu.
Kajian lintas budaya juga membuktikan bahwa kemampuan berfikir abstrak atau penalaran ilmiah yang diasumsikan oleha Peageot sebagai titik akhir perkembangan kognitif ternyata tidak berlaku secara universal. hal ini disebabkan perbedaan nilai dan pemberian penghargaan masyarakat pada skill dan perilaku tertentu.
      Hubungan antara intelegensi dengan kajian lintas budaya adalah bahwasanya secara umum pengertiannya sama yaitu orang yang mempunyai kemampuan yang lebih jika dibandingkan dengan orang lain akan tetapi ketika kita lihat aplikasi di lapangan pada saat  kita bersinggungan langsung dengan kebudayaan sebuah masyarakat bahwasanya kecerdasan itu bisa diartikan berbeda tergantung dari kebiasaan, adapt dan norma dari kebudayaan tersebut, misalnya di kebudayaan orang cina yang memandang seseorang yang memiliki kecerdasan adalah orang sukses dalam berbisnis namun berbeda bagi kebudayaan Barat yang menganggap kecerdasan adalah seseorang ynag mempunyai kemampuan di bidang matematika yang tinggi.
Ada berbagai hal yang berhungan dengan keberadaan faktor kognisi dalam pengaruhnya terhadap lintas budaya, antara lain:

a.         Kecerdasan Umum
Flynn membuat suatu penelitian dengan mengumpulkan data tes intelegensi dari 14 negara. Data berasal dari pendaftar tetara dan didasarkan pada tes yang dikumpulkan dalam beberapa tahun. Data diambil dari semua umur. Dari data trsebut diketahui adanya peningkatan IQ di semua Negara, dengan nilai median 15 poin (dalam 1 standar deviasi) 
pada satu generasi. Flynn percaya bahwa tes IQ bukan ukuran mutlak dalam melihat kemampian seseorang. Hasil penelitian Flynn adalah sebuah informasi tentang penelitian lintas budaya, karena dia memperlihatkan kemampuan rata-rata dalam tes IQ dan populasi 
adalah jauh dari kesetabilan dan dapat berubah secara dramastis dalam waktu yang relatuf pendek.
Pada tahun 1997 van vijver mengumpulkan dan menganalisis data dari 157 sisiwa putus sekolah dengan menggunakan jenis tes kemampuan kognitif. Pertanyaan dugunakan untuk menyelidiki hunbungan antara pendidikan dan kemampuan. Dengan menggunakan indek dasar anggaran belanja pendidkan dan GNP dari sejumlah Negara. Dia menemukan suatu hubungan positif kemakmuran suatu Negara dengan perbedaan kemampuan dari suatu kelompok budaya dan juga berapa lama suatu pendidkan dilaksanakan. Penemuan dari Van Vijver mendukung objek dasar melawan adanya inteprestasi rasial. Perbedaan kelompok sejak lahir dapat mempengaruhi suatu lingkungan, lebih lanjut kondisi yang kondusiv dalam pekembangan intelektual akan menjadi sama.
Mc. Shane dan Berry mempunyai suatu tinjauan yang cukup tajam terhadap terhadap tes kemampuan kognitif. Mereka menambahkan tentang deprivasi individu (kemiskinan, gizi yang rendah, dan kesehatan), disorganisasi budaya sebagai pendektan untuk melengkapi konsep G. jika disimpulkan beberapa hal yang memepengaruhi kemempuan kognitif seseorang bukanlah budaya yang ada pada lingkungan mereaka akan tetapi kemampuan ini dipengaruhi oleh faktor genetik, keadaan psikis, deprivasi individu dan disorganisasi budaya.

b.        Genetic Epistemologi (Faktor Keturunan)
Genetic Epistemologi adalah salah satu teori dari Jean Piaget yang isinya adalah mengatakan bahwa “adanya koherensi antara penampilan kognitif saat berbagai tugas diberikan pada seseorang”. Dalam teori selnjutnya (dalam bahasan ini) piaget menerangkan adanya 4 faktor yang mempengaruhi perkembangan kognitif ;
1.        Faktor biologis, berada pada sistem saraf.
2.        Faktor keseimbangan, berkembang disebabkan adanya interaksi antara manusia dengan lingkungan
3.        Faktor sosial
4.        Faktor perpindahan budaya, termasuk didalamnya pendidikan, kebiasaan dan institusi.
Yang akan menjadi fokus utama dalam bahasan Genetik Epistemologi adalah pembagian epistemologi yang terjadi dalam lintas budaya Psikologi Piagetian. Psikologi Piagetian berkembang dari penelitian yang homogen menjadi heterogen. Penelitian lintas budaya yang 
menggunakan paradigma ekokultural membawa kesimpulan bahwa ekologi dan faktor budaya tidak mempengaruhi hubungan antar tahap tapi mempengaruhi seberapa cepat dalam mencapainya. Perkembangan kognitif berdasarkan data tidak akan sama disetiap tempat dan 
kebudayaan tertentu. Pada tahun 1987 Dasen dan Ribaupiere menyimpulkan bahwa teori 
Piagetian mempunyai keuntungan sebagai berikut:
                                1)          Struktur invarian yang diabtasi adalah independent
                                2)          Model dapat diterapkan kepada beberapa domain.
                                3)          Perilaku spontan dapat diobservasi.
                                4)          Model menghubungkan aspek struktural dan fungsional dan memperkenalkan perbedaan antara fenomena yang dapat dilihat maupun tidak.
                                5)          Ada konvergensi antar sekolah sosiohistoris dan epistemologi genetis
                                6)          Mereka menyebabkan adanya spesifikasi domain.

3.   Cara Berpikir
Dalam pendekatan kecerdasan umum dan genetik epistemologi, cara berpikir seseorang cenderung mengarah pada aspek “bagaimana” dari pada aspek “seberapa banyak” (kemempuan) dalam kehidupan kognitifnya.Kemampuan kognitif dan model-model kognitif merupakan salah satu cara bagi sebuah suku dan anggotanya membuat kesepakatan yang efektif terhadap masalahyang dijumpai dalam kehidupan sehari-hari. Pendekatan ini mencari pola dari aktivitas kognitif berdasarkan asumsi universal bahwa semua proses berlaku pada semua kelompok, tetapi pengembangan dan penggunaan yang berbeda akan mengarah pada pola kemampuan yang berbeda juga.
Seorang pengembang dimensi model kognitif FDI yang bernama Within menyatakan bahwa kemampuan kognitif ini tergantung pada cara yang ditempuh untuk membuktikan “pola” yang dipilih. Tetapi menjelaskan pola kuyrang begitu luas cangkupannya daripada kecerdasan umum. Membangun FDI yang dimaksud adalah memperbesar kepercayaan dari individu tersebut atau menerima lingkungan fisik atau sosial yang diberikan, melakukan pekerjaan yang bertolak belakang seperti menganalisis atau membangun.
Para pemburu dan pemetik nomaden relatif berada pada lingkungan yangkurang berstruktur kehidupan sosialnya dan lebih pada independent, begitu juga sebaliknya dengan pertanian menetap. Kemudian perbedaan jenis kelamin juga sangat berpengaruh dalam struktur sosial dan memperkuat bukti bahwa perspektif ekologi memberikan cangkupan yang sangat luas untuk 
menguji keaslian dari perbedaan-perbedaan model.

4.   Contextualized cognition (pengamatan kontekstual)
Secara garis besar Cole dan Scriber memberikan suatu metodologo dan teori tetang kontek kognisi. Teori dan metodologi tersebut diujikan untuk penghitungan kemampuan kognitif secara spesifik dalam suatu kontek budaya dengan menggunakan kontek kognisi yang di sebut sebagai Contextualized cognitionUntuk memperkuat pendekatan mereka, cole membuat suatu studi empiris dan tunjauan terhadap literatur.
Misalnya dalam budaya timur, asumsi stabilitas kepribadian sangatlah sulit diterima. Budaya timur melihat bahwa kepribadian adalah kontekstual (contextualization). Kepribadian bersifat lentur yang menyesuaikan dengan budaya dimana individu berada. Kepribadian cenderung berubah, menyesuaikan dengan konteks dan situasi.

Adapun pengaruh kognitif terhadap lintas budaya antara lain:

Locus of control
Hal paling menarik dari hubungan kognitif dengan konteks lintas budaya adalah masalah locus of control. Sebuah konsep yang dibangun oleh Rotter (1966) yang menyatakan bahwa setiap orang berbeda dalam bagaimana dan seberapa besar kontrol diri mereka terhadap perilaku dan hubungan mereka dengan orang lain serta lingkungan.
Locus of control umumnya dibedakan menjadi dua berdasarkan arahnya, yaitu internal dan eksternal. Individu dengan locus of control eksternal melihat diri mereka sangat ditentukan oleh bagaimana lingkungan dan orang lain melihat mereka. Sedangkan locus of control internal melihat independency yang besar dalam kehidupan dimana hidupnya sangat ditentukan oleh dirinya sendiri.
Sebagai contoh adalah penelitian perbandingan antara masyarakat Barat (Eropa-Amerika) dan masyarakat Timur (Asia). Orang-orang Barat cenderung melihat diri mereka dalam kaca mata personal individual sehingga seberapa besar prestasi yang mereka raih ditentukan oleh seberapa keras mereka bekerja dan seberapa tinggi tingkat kapasitas mereka. Sebaliknya, orang Asia yang locus of control kepribadiannya cenderung eksternal melihat keberhasilan mereka dipengaruhi oleh dukungan orang lain ataupun lingkungan.


Diri individual
Diri individual adalah diri yang fokus pada atribut internal yang sifatnya personal; kemampuan individual, inteligensi, sifat kepribadian dan pilihan-pilihan individual. Diri adalah terpisah dari orang lain dan lingkungan.
Budaya dengan diri individual mendesain dan mengadakan seleksi sepanjang sejarahnya untuk mendorong kemandirian sertiap anggotanya. Mereka didorong untuk membangun konsep akan diri yang terpisah dari orang lain, termasuk dalam kerangka tujuan keberhasilan yang cenderung lebih mengarah pada tujuan diri individu.
Dalam kerangka budaya ini, nilai akan kesuksesan dan perasaan akan harga diri megambil bentuk khas individualisme. Keberhasilan individu adalah berkat kerja keras dari individu tersebut. Diri individual adalah terbatas dan terpisah dari ornag lain. Informasi relevan akan diri yang paling penting adalah atribut-atribut yang diyakini stabil, konstan, personal dan insteransi dalam diri.

Kolektifitas
Budaya yang menekankan nilai diri kolektif sagat khas dengan cirri perasaan akan keterkaitan antar manusia satu sama lain, bahkan antar dirinya sebagai mikro kosmos dengan lingkungan di luar dirinya sebagai makro kosmos. Tugas utama normative pada budaya ini adalah bagaimana individu memenuhi dan memelihara keterikatannya dengan individu lain. Individu diminta untuk menyesuaikan diri dengan orang lain atau kelompok dimana mereka bergabung. Tugas normative sepanjang sejarah budaya adalah mendorong saling ketergantungansatu sama lain. Karenanya, diri (self) lebih focus pada atribut eksternal termask kebutuhan dan harapan-harapannya.
Dalam konstruk diri kolektif ini, nilai keberhasilan dan harga diri adalah apabila individu tersebut mampu memenuhi kebutuhan komunitas dan menjadi bagian penting dalam hubungan dengan komunitas. Individu focus pada status keterikatan mereka (interdependent), dan penghargaan serta tanggung jawab sosialnya. Aspek terpenting dalam pengalaman kesadaran adalah saling terhubung antar personal.
Dapat dilihat bahwa diri (self) tidak terbatas, fleksibel, dan bertempat pad konteks, serta saling overlapping antara diri dengan individu-individu lain khususnya yang dekat atau relevan. Dalam budaya diri kolektif ini, informasi mengenai diri yang terpenring adalah aspek-aspek diri dalam hubungan.

Persepsi diri
Studi yang dilakukan oleh Bond danTak-Sing (1983), dan Shwender dan Bourne (1984) menunjukkan bagaimana perbedaan konstruk diri mempengaruhi persepsi diri. Studi ini membandingkan kelompok Amerika dan kelompok Asia, subyek diminta menuliskan beberapa karakteristik yang menggambarkan diri mereka sendiri. Respon yang diberikan subyek bila dianalisa dapat dibagi ked lam dua jenis, yaitu respon abstrak atau deskripsi sifat kepribadian seperti saya seorang yang mudah bergaul, saya orang yang ulet; dan respon situasional seperti saya biasanya mudah bergaul dengan teman-teman dekat saya.
Hasil studi menunjukkan bahwa subyek Amerika cenderung memberikan respon abstrak sedangkan subyek Asia cenderung memberikan respon situasional. penemuan ini menyatakan bahwa individu dengan konstruk diri yang dependent cenderung menekankan pada atribut personal: kemampuan ataupun sifat kepribadian; sebaliknya individu dengan konstruk diri intersependent lebih cenderung melihat diri mereka dalam konteks situasional dalam hubungannya dengan orang lain.

Sosial explanation
Konsep diri juga menjadi semacam pola panduan bagi kognitif dalam melakukan interpretasi terhadap perilaku orang lain. Individu dengan diri individual, yang memiliki keyakinan bahwa setiap orang memiliki serangkaian atribut internal yang relatif stabil, akan menganggap orang lain juga memiliki hal yang sama. Hasilnya, ketika mereka melakukan pengamatan dan interpretasi terhadap perilaku orang lain, mereka berkeyakinan dan mengambil kesimpulan bahwa perilaku orang lain tersebut didasi dan didorong oleh aspek-aspek dalam atribut internalnya.
Motivasi berprestasi
Motivasi adalah faktor yang membangkitkan dan menyediakan tenaga bagi perilaku manusia dan organisme lainnya. motivasi manusia merupakan konsep yang paling banyak menarik perhatian dan diteliti dalam kajian psikologi, sekaligus paling controversial karena banyaknya definisi dan pemikiran yang dikembangkan. Teori motivasi yangn terkenal diantaranya disampaikan oleh Maslow dan Mc-Clelland.
Dalam teori motivasi Maslow, manusia memiliki hierarki kebutuhan dari kebutuhan paling dasar yaitu fisiologis hingga kebutuhan paling tinggi yaitu aktualisasi diri. Sementara menurut Mc-clelland, manusia juga dimotivasi oleh dorongan sekunder yang penuh tenaga yang tidak berbasis kebutuhan, yaitu berprestasi, berafiliasi atau menjalin hubungan, dan berkuasa.
Dalam tradisi barat, konsep diri bersifat individual, motivasi diasosiasikan sebagai sesuatu yang personal dan internal, dan kurang terkait dengan konteks sosial ataupun interpersonal. Dalam komunitas tradisi timur, konsep diri condong dilihat sebagai bagian kolektifitas, kesuksesan adalah untuk mencapai tujuan sosial yang lebih luas. Kesuksesan selalu dipandang terkait dengan kebanggaan dan kebahagiaan orang lain, terutama orang-orang terdekat.
Peningkatan diri (self enhancement)
Memelihara atau meningkatkan harga diri diasumsikan akan memiliki bentuk yang berbeda pada budaya yang cenderung interdependent. Diantara orang-orang yang datang dari budaya interdependent, penaksiran atribut internal diri mungkin tidak terkait dengan harga diri (self esteem) ataupun kepuasan diri (self satisfiaction). Sebaliknya, harga diri ataupun kepuasan diri terlihat lebih terkait dengan keberhasilan memainkan perannya dalam kelompok, memelihara harmoni, menjaga ikatan, dan saling membantu. Bagi orang-orang dri interdependent culture, melihat dirir sebagai unik atau berbeda malah akan menjadikan ketidakseimbangan psikologis diri. Mereka akan merasa terlempar dari kelompoknya dan kesepian sebagai manusia.

Perbedaan Intelegensi antara Budaya Timur dan Barat Secara Umum

Nilai budaya timur pada intinya banyak bersumber dari agama. Inti kepribadian orang timur terletak pada hatinya. Dengan hatinya mereka menyatukan akal budi, intuisi, intelegensi, dan perasaan. Pemikiran timur lebih menekankan unsur terdalam dari jiwa. Budaya timur lebih menekankan disiplin mengendalikan diri, sederhana, tidak mementingkan dunia. Sesuatu yang baik menurut budaya timur tidak terdapat hanya dalam benda (materialisme), tidak dengan manipulasi alam (eksploitasi), atau mengubah masyarakat dan mencari kesenangan dirinya (Hedonisme). Tetapi seuatu yang baik menurut timur adalah sesuatu yang diperoleh dari pencarian zat yang satu, di dalam diri kita atau luarnya. Jalan untuk memperoleh hikmah keselamatan dan kebebasan diri dari penderitaan dunia tidak terletak pada akal budi, tetapi melalui meditasi, beribadah atau tirakat. 

Sikap orang timur terhadap alam adalah menyatu dengan alam, tidak mengeksploitasi alam, bahkan menginginkan harmoni dengan alam. Sebab alam merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan manusia. Indonesia sebagai bagian dari wilayah yang menganut kebudayaan timur harus mementingkan kerohanian, perasaan , gotong royong, dan menjaga keharmonisan antara manusia dengan alam dan manusia dengan tuhan. Unsur budaya barat hendaknya diserap secara selektif dan hati-hati. Kemajuan barat di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi patut kita tiru. Adapun bentuk budaya barat berupa sikap gaya hidup mewah, individualisme, dan jauh dari kehidupan agama tidak patut untuk dicontoh.

Daftar Pustaka :

Walgito, Bimo. 2004. Psikologi Umum. Yogyakarta: Penerbit Andi.
Walgito, Bimo. 1999. Psikologi Sosial Suatu Pengantar. Yogyakarta: Penerbit Andi. 
http://fathoriknazam.blogspot.com/2010/11/budaya-barat-vs-budaya-timur.html
 

Jumat, 01 November 2013

Psikologi Manajemen

A. PSIKOLOGI MANAJEMEN

Secara etimologi, psikologi berasal dari kata Yunani "psycho" yang artinya jiwa, dan "logos" yang artinya ilmu pengetahuan. Jadi psikologi adalah ilmu yang mempelajari tentang jiwa. Baik mengenai macam-macam gejalanya, prosesnya maupun latar belakangnya. Dengan singkat disebut ilmu jiwa.

Secara terminologi Psikologi menurut kesimpulan para ahli adalah ilmu yang mempelajari semua tingkah laku dan perbuatan individu. Dimana individu tersebut tidak dapat dilepaskan dari lingkungannya.

Secara terminologi. pengertian manajemen adalah serangkaian kegiatan merencanakan, mengorganisasikan, mengeerakan, mengendalikan, dan mengembangkan segala upaya dalam mengatur dan mendaya gunakan sumber daya manusia sarana dan prasarana untuk mencapai tujuan organisasi yang telah ditetapkan secara efektif dan efisien.

Ada beberapa jenis manajemen, yaitu :
  1. Manajemen Sumber Daya  Manusia. Dalam hal ini difokuskan pada unsur manusia pekerja. Pokok-pokok yang dipelajari dalam manajemen sumber daya manusia adalah perencanaan, pengorganisasian , kedisiplinan, pengembangan, dan sebagainya.
  2. Manajemen Permodalan. Fokus tertuju pada "bagaimana menarik modal yang cost of money nya relatif rendah dan bagaimana modal"
  3. Manajemen Akuntansi Biaya. Membahas masalah material, agar efisien dan efektif. Jadi dalam hal ini bagaimana cara agar terciptanya barang yang berkualitas dengan harga yang relatif rendah.
  4. Manajemen Produksi. Mengenai pengertian produksi, tata ruang perusahaan, peralatan, dan cara-cara untuk memproduksi barang/jasa agar kualitasnya baik
  5. Manajemen pemasaran. Bagaimana agar orang-orang mau mengkonsumsi atau menggunakan barang/jasa yang diproduksi.
B. PSIKOLOGI ORGANISASI

Psikologi organisasi adalah bidang yang menggunakan metodologi ilmiah untuk lebih memahami perilaku individu dalam pengaturan organisasi. Pengetahuan ini diterapkan, dalam berbagai cara, untuk membantu fungsi organisasi lebih efektif. Hal ini penting karena organisasi yang efektif biasanya lebih produktif, sering memberikan jasa berkualitas tinggi dan biasanya lebih sukses secara finansial dari organisasi yang kurang efektif. 

Dalam arti paling umum, psikologi organisasi adalah ilmu pengetahuan yang mempelajari tentang perilaku individu dan perilaku kelompok dalam aturan organisasi normal. Katz dalam Khan, dalam karya klasik mereka, The Psychology Social Organisasi (1978), menyatakan bahwa esensi dari sebuah organisasi adalah pola atau motif perilaku manusia. Ketika berperilaku berpola, maka struktur dikenakan pada individu.
C. KOMUNIKASI

Dalam kehidupan sehari-hari, komunisasi (communication) adalah hal terpenting dalam mempererat tali silaturahmi. Dengan komunikasi juga kita dapat memahami orang lain. Dapat disimpulkan komuniaksi adalah suatu interaksi yang saling mempengaruhi satu sama lain secara verbal atau non verbal.

Adapun beberapa definisi komunikasi menurut para ahli :
  1. Menurut Stewart L. Tubbs dan Sylvia Moss komunikasi adalah proses pembentukan makna di antara dua orang atau lebih
  2. Menurut Judy C. Pearson dan Paul E. Nelson komunikasi adalah proses memahami dari berbagai makna
  3. Menurut William I Gordon komunikasi adalah suatu interaksi dinamis yang melibatkan gagasan dan perasaan. 
D. DIMENSI KOMUNIASI

Dimensi Perspektif Komunikasi

  1. Komunikasi sebagai proses. Komunikasi dipandang sebagai proses yang dimaksudkan disini ialah suatu kegiatan yang berlangsung secara dinamis. Proses yang berarti unsur-unsur yang ada di dalamnya bergerak aktif, dinamis, dan tidak statis. 
  2. Komuniasi sebagai simbolik. Dimana segala sesuatunya memerlukan dan menggunakan simbol. Simbol dapat dinyatakan dalam bentuk verbal maupun non verbal, dalam setiap daerah, lingkungan atau kumpulan tertentu simbol dapat berbeda-beda 
  3. Komunikasi sebagai sistem. Sistenm didefinisikan sebagai suatu aktivitas dimana semua komponen atau unsur yang mendukung saling berinteraksi satu sama lain dalam menghasilkan saluran (Semprivivo, 1982). Dengan kata lain sistem adalah seperangkat komponen-komponen serta unsur unsur yang terhubung dan saling bergantung satu sama lain,.
  4. Komunikasi sebagai aksi. Dalam berbagai komunikasi selalu ada aksi apakah itu ucapan, tulisan maupun isyarat dan bahkan gerakan dalam bentuk diam pun merupakan aksi
  5. Komunikasi sebagai aktifitas sosial. Komunikasi menjadi jembatan dalam menghubungkan antara kepentingan diri manusia sebagai individu dengan masyarakat disekelilingnya.  

Daftar Pustaka :

Schermerhom, Jr, J. (1998). Manajemen. Yogyakarta : ANDI Yogyakarta.
Leavitt, Harold J. (1992). Psikologi Manajemen. Jakarta: Erlangga

Sabtu, 12 Oktober 2013

Haloo !!

Nama saya Clara Jannata Alverina biasa dipanggil dengan nama Clara atau Yaya. Saya lahir di Yogyakarta pada tanggal 13 September 1992. Ayah saya seorang musisi dan ibu saya seorang penari. Sampai dengan umur 8 tahun saya menetap di Yogya dan bersekolah disana. 

Pada umur 9 tahun saya pindah ke Jakarta dan bersekolah di bilangan Cengkareng, Jakarta Barat. Tetapi hanya 1 tahun saya di sana kemudia pindah ke daerah Cibubur. Sampai akhirnya sekarang saya duduk di bangku kuliah di Universitas Gunadarma saya masih menetap di kawasan Cibubur. 

Sejak umur 11 tahun saya mulai menggeluti dunia musik di khususkan pada alat musik piano. Dan mulai mengikuti lomba-lomba tahunan dari sekolah saya di Yamaha Music School dan mendapatkan beberapa penghargaan dalam perlombaan tersebut. 

Saat mulai masuk bangku SMA saya sudah jarang mengikuti perlombaan karena mulai menjadi asisten guru piano di Yamaha Music School. Mulai saat itulah saya senang mengajar, dan akhirnya pada saat lulus SMA berbarengan dengan masuk bangku kuliah saya sudah menjadi guru piano tetap di Yamaha Nuansa Music School di Kota Wisata Cibubur. 

Mulai dari saat itu, semua kebutuhan kuliah dan sebagainya seperti makan diluar rumah, baju-baju yang saya pakai sudah saya beli sendiri. Ada kebanggaan tersendiri, tapi ternyata saya juga mulai stres karena semua keuangan kalau saya tidak atur saya tidak bisa bayar kuliah dan lain sebagainya hehehe.. Apalagi kalau sudah barang-barang mulai naik harganya, saya sudah mulai bisa merasakan stress layaknya orang dewasa lainnya.(Jadi curhat ya .. wkwkwk)

Kemudian saya sengaja pilih fakultas psikologi sebagai bidang yang ingin saya pelajari ilmunya karena menurut saya pasti ada hubungannya dengan pekerjaan saya sebagai guru piano. Bagaimana saya menyikapi murid yang mood2an, bagaimana menyikapi murid yang kritis, yang pemalu dsb. Dan lagi, sebagai guru piano saya sengaja mengambil jurusan psikologi karena saya tidak mau murid saya seperti saya. Dalam arti, setiap manusia punya keunikan. Dimana keunikan itu bisa dituangkan dalam interpretasi mereka pada musik. Saya ingin murid-murid yang saya cetak adalah diri khas mereka atau kekhasan mereka dalam mengeluarkan gaya mereka dalam bermain musik. Karena kebanyakan banyak pemain piano yang gaya-gaya bermainnya seperti gurunya "persis". Nah kalo saya bisa mengerti mereka, mudah-mudahan saya bisa mengembangan keunikan mereka dan ilmu yang saya berikan bisa bermanfaat bagi mereka dan orang lain tentunya.

Saya ingin sekali apa yang menjadi keterampilan saya bisa berguna bagi orang lain. Saya juga ingin orang-orang disana jangan berputus asa atas kerumitan menjalani kehidupan ini (asek). Ayo gali kemampuan kamu, potensi kamu, dan eksplor terus agar kelak kamu menjadi orang yang tidak menyianyiakan hidup dan bisa berguna bagi orang lain apalagi bisa berguna bagi negara itu lebih baik lagi .. Tetap semangat, mumpung masih muda tidak ada kata terlambat untuk memulai mencari keahlian pada dirimu. Ayoooo !!!! HAHAHAHA :D

Sabtu, 29 Juni 2013

Rangkuman Kesehatan Mental Tugas 1, 2 dan 3.

Konsep Sehat- Kesehatan mental menurut UU No. 3/1961 adalah suatu kondisi yang memungkinkan perkembangan fisik, intelektual, emosional yang optimal dari seseorang dan perkembangan itu berjalan selaras dengan keadaan orang lain. 
 
Budaya barat dan Timur ternyata memiliki perbedaan yang mendasar mengenai konsep sehat-sakit. Perbedaan ini mempengaruhi sistem pengobatan di kedua kebudayaan. Akibatnya. pandangan mengenai kesehatan mental juga berbeda. Barat memandang kesehatan bersifat dualistik melihat tubuh manusia sebagai mesin dan dipengaruhi oleh dominasi media. Sementara Timur lebih bersifat holistik, melihat kesehatan secara menyeluruh, saling mengait sehingga mempengaruhi cara-cara penanganan terhadap penyakit. 
 
Sejarah Kesehatan Mental - Sejarah kesehatan mental tidaklah sejelas sejarah ilmu kedokteran. Terutama karena masalah mental bukan merupakan masalah fisik yang dapat dengan mudah diamati dan terlihat. Orang dengan gangguan kesehatan mental sering kali tidak terdeteksi, sekalipun oleh anggota keluarganya sendiri. Hal ini lebih karena sehari-hari hidup bersama sehingga tingkah laku yang mengindikasikan gangguan mental dianggap hal biasa, bukan sebagai gangguan.

Pendekatan Kesehatan Mental- Orientasi klasik, biasanya digunakan dalam kedokteran termasuk psikiatri mengartikan sehat sebagai kondisi tanpa keluhan, baik fisik maupun mental. Orang sehat adalah orang yang tidak memiliki keluhan tentang keadaan fisik dan mentalnya. 

Orientasi Penyesuaian diri, pengertian sehat mental tidak dapat dilepasankan dari konteks lingkungan tempat individu hidup. Oleh karena itu kaitannya dengan standar norma lingkungan terutama norma sosial dan budaya, kita tidak dapat menentukkan sehat atau tidaknya mental seseorang dari kondisi kejiwaan semata. 

Orientasi pengembangan potensi, seseorang dikatakan mencapai taraf kesehatan jiwa, bila ia mendapatkan kesempatan untuk mengembangkan potensialitasnya menuju kedewasaan, ia bisa dihargai oleh orang laindan dirinya sendiri. 

Teori Kepribadian Sehat -  Kepribadian adalah alih bahasa dari personality, berasal dari kata persona, artinya topeng atau kedok. Alat ini biasanya dipakai pemain sandiwara, disesuaikan peran yang dimainkan. Istilah personality sering disamakan dengan character atau watak maupun tipe.
 
Mahzab 1 dalam aliran psikoanalisa mengatakan bahwa psikologi adalah kesadaran orang normal, dewasa dan beradab. Anggapan Freud (dalam Sumadi Suryabrata, 1982), kesadaran itu hanya sebagian kecil dari kehidupan psikis. Freud mengumpamakan psikis sebagai gunung es yang berada di lautan yang menggambarkan alam tidak sadar lebih luas dibandingkan alam sadar.
 
Mahzab 2 dalam aliran behaviorisme, bercorak lebih mekanistik dan kuantitatif, juga relatif memiliki cara pandang yang sama terhadap sehat dan sakit. Individu yang sehat bila masih bisa menjalankan fungsi sehari-hari dengan baik, kalau perilakunya masih sesuai dengan realita.
     
Mahzab 3 dalam aliran Humanistik, timbul kesadaran bahwa pengertian berdasarkan cara pandang tradisional tersebut memiliki keterbatasan. Fenomena-fenomena yang terjadi pada perilaku individu memberikan gambaran yang semakin jelas dan tajam mengenai keterbatasan cara pandang tradisional tersebut. (Siswanto, 2007)

G.W Allport , kepribadian adalah organisasi dinamis dalam individu sebagai sistem psikofisis yang menentukkan caranya yang khas dalam menyesuaikan diri terhadap lingkungan, dalam Sumadi Suryabrata (1982). Dalam batasan ini ditekankan pada individualitas yang khas/unik benar-benar dengan cara menyesuaikan diri terhadap lingkungan fisiologis dan lingkungan psikologis.

Carl Rogers, Kunci utama dalam pandangan Rogers adlah bahwa orang cenderung berkembang ke arah positif dengan kata lain, mereka akan memenuhi potensi mereka kecuali kalau mereka mengalami rintangan. Pemikiran ini dapat ditelusuri sampai ke filsuf politik Prancis abad ke-18, Jean Jacques Rousseau, yang percaya bahwa semua orang pada dasarnya adalah baik.

Abraham Maslow, membagi kebutuhan organisme menjadi dua kategori. Pertama, mengidentifikasi beberapa kategori kebutuhan defisiensi kebutuhan yang penting dalam pertahanan hidup. Kebutuhan fisiologis adlah kebutuhan biologis utama seperti makanan, air, seks, dan tempat tinggal. 

Erich Fromm, mengatakan bahwa manusia adalah makhluk sosial. Berdasarkan pendapat tersebut maka salah satu ciri pribadi yang sehat berarti adanya kemampuan untuk hidup dalam masyarakat sosial. Kepribadian sehat menurutnya adalah penyesuaian diri seseorang dalam masyarakat, merupakan kompromi antara kebutuhan-kebutuhan batin dan tuntutan dari luar, dan seseorang menerapkan karaktersosial untuk memenuhi harapan masyarakat. 

Pengertian Stress- stress harus dibedakan dengan stresor. Stresor adalah sesuatu yang menyebabkan stres. Stres itu sendiri adalah akibat dari interaksi (timbal-balik) antara rangsangan lingkungan dan respon individu. Terjadinya stres tergantung pada stresor dan tanggapan seseorang terhadap stresor tersebut. Lingkungan fisik bisa menjadi stresor, seperti suhu panas dan dingin, perubahan cuaca, cahaya terlalu gelap atau terang, suara terlalu bising dan polusi merupakan sumberpotensial pada stresor.

General Adaptation Syndrom (GAS)- Teori ini dikenalkan oleh Selye. Teori ini membantu dan memahami rekasi individu terhadap stres. Ia berpendapat bahwa tubuh berekasi sama ketika menghadapi stres, tidak peduli apapun jenis stresornya. Tipe-tipe stres adalah frustasi, konflik,tekanan, dan kecemasan.

Symptom Reducing Responses terhadap Stres- Berhubungan dengan pertahan diri (defence mechanism). Pertahanan diri ada yang bersifat positif dan ada pula yang negatif ;
1. Kompensasi - mengganti kerugian, mengisi kekurangan. Bentuk kompensasi adalah kompensasi langsung, kompensasi tidak langsung dan kompensasi berlebihan.
2. Sublimasi - memperhalus atau memperindah. Menyalurkan dorongan-dorongan yang bersifat egoistis, nafsu-nafsu animal dan dorongan yang kurang sehat. 
3. Melamun- menghindari problem ke alam khayalan. Seolah-olah ia melakukan apa yang ia inginkan , ia telah merasa mendapat sukses.
4. Rasionalisasi, masuk akal. Mengisi kekurangan dengan menutup kesalahan/ rintangan. Hal yang tidak masuk akal dengan alasan-alasan diubah menjadi masuk akal agar dapat memuaskan harga dirinya, serta diakui oleh masyarakat.
5. Identifikasi - hampir sama dengan meniru, menyamakan dengan orang sukses padahal ia telah mengalami kegagalan.
6. Proyeksi - melemparkan kesalahan kepada orang lain
7. Regresi- kembali ke masa primitif, dan diperhatikan oleh orangtuanya.
8. Represi- menghilangkan kekecewaan dengan jalan melupakannya.
9. Displacement- menghilangkan kesusahan dengan memindahkan pada objek lain.
10. Fiksasi- menghilangkan kekecewaan dengan cara membatasi tingkah laku tertentu yang memberi keamanan.

Pendekatan Problem Solving- Biofeedback adalah suatu tekhnik untuk mengetahui bagian-bagian tubuh mana yang terken astres dan kemudian belajar untuk menguasainya. Gunanya sebagai feedback atau umpan balik terhadap bagian tubuh tertentu. Relaksasi adalah tekhnik paling efektif untuk menyembuhkan stres. Tekhniknya dengan mengendurkan otot-otot seluruh tubuh kemudia pengenduran dilakukan pada bagian-bagian tubuh yang sering mengalami stres. 

Koping- adalah pengatasan dan penanggulangan. Sering disamakan dengan adjustment (penyesuaian diri). Sering dimaknai sebagai cara untuk memecahkan masalah (problem solving). Jenis-jenis koping menurut Harber dan Runyon (1984) yaitu :
  1. Penalaran : yaitu penggunaan kemampuan kognitif untuk mengeksplorasi berbagai macam alternatif pemecahan masalah dan kemudian memilih salah satu alternatif yang dianggap paling menguntungkan.
  2. Objektivitas : kemampuan untuk membedakan antara komponen-komponen emosional dan logis dalam pemikiran, penalaran maupun tingkah laku.
  3. Konsentrasi : kemampuan untuk memusatkan perhatian secara penuh pada persoalan yang sedang dihadapi.
  4. Humor : kemampuan untuk melihat segi yang lucu dari persoalan yang sedang dihadapi
  5. Supresi: kemampuan untuk menekan reaksi yang mendadak terhadap situasi yang ada sehingga memberikan cukup wajtu untuk menyadari dan memberikan reaksi yang lebih konstruktif
  6. Toleransi : kemampuan dalam memahami bahwa dalam banyak hal dalam kehidupan yang tidak jelas dan oleh karenanya perlu memberikan ruang bagi ketidakjelasan tsb
  7. Empati : kemampuan melihat sesuatu dari pandangan orang lain.
Pertumbuhan Personal- pertumbuhan secara fisiologis sebagai hasil dari proses pematangan fungsi-fungsi fisik yang berlangsung secara normal pada anak yang sehat pada waktu yang normal. Tidak selamanya individu berhasil dalam melakukan penyesuaian diri, karena kadang-kadang ada rintangan-rintangan tertentu yang menyebabkan tidak berhasil melakukan penyesuaian diri. Shekdon mengungkapkan bahwa terdapat korelasi yang tinggi antara tipe-tipe bentuk tubuh dan tipe-tipe temperamen.

Carl Roger menyebutkan 3 aspek yang memfasilitasi pertumbuhan personal dalam suatu hubungan :
1. Keikhlasan kemampuan untuk menyadari perasaan sendiri atau menyadari kenyataan.
2. Menghormati keterpisahan dari orang lain tanpa kecuali, dan
3. Keinginan yang terus-menerus untuk memahami atau berempati terhadap orang lain.

Hubungan Interpersonal- pengertian hubungan interpesonal berbeda tergantung dari sudut mana memandangnya. Ada 4 buah model menurut Colleman dan Hammet :
  • Model Pertukaran sosial (Social Exchange Model) : hubungan interpesonal sebagai suatu transaksi dagang yang akan memberikan keuntungan bagi individu.
  • Model Peranan (Role Model) : panggung sandiwara yang setiap orang harus memainkan peranannya sesuai naskah yang dibuat masyarakat.
  • Model Permainan (Role Play Model) : Kita menampilakn salah satu dari tiga kepribadian yaitu orang dewasa, orangtua, dan anak=anak dan orang lain membalasnya dengan salah satu aspek tersebut juga.
  • Model Interaksional : hubungan interpersonal adalah suatu sistem. 
Menurut Reis dan Patrick (1966 dalam Hewstone, Fincham dan Foster, 2005) orang mengidentifikasi hubungan yang menyenangkan ketika :
  1. Perhatian
  2. Mengerti/memahami
  3. Menunjukan penerimaanya pada kita
Intimacy dalam hubungan Pribadi, menurut Sternberg bahwa suatu hubungan intim adalah sebuah ikatan emosional antara dua individu yang didasari oleh kesejahteraan satu sama lain, leinginan untuk memperlihatkan pribadi masing-masing yang terkadang lebih bersifat sensitif serta saling berbagi kegemaran dan aktivitas yang sama. 

Intimacy dan Pertumbuhan, menurut Havighurst dewasa dini memiliki tugas perkembangan sebagai berikut,
  • mulai bekerja
  • memilih pasangan 
  • belajar hidup dengan tunangan
  • mulai membina keluarga
  • mengasuh anak
  • mengelola rumah tangga
  • mengambil tanggung jawab sebagai warga negara. 
Cinta dan Perkawinan- Perkawinan atau dalam arti pernikahan adalah uapcara pengikatan janji nikah yang dirayakan atau dilaksanakan oleh dua orang dengan maksud meresmikan ikatan perkawinan secara norma agama, norma hukum, dan norma sosial. 

Bagaimana memilih pasangan? para pemuka agama menyarankan agar memilih pasangan yang seiman, sehat dan belum pernah menikah sebelumya.

Dalam seluk beluk membina keluarga, setriap objek yang berpasangan adalah objek yang sama-sama belajar. Belajar dalam arti belajar menjadi dewasa, menjadi arif, menjadi bijaksana, menjadi paham. Harus bisa saling mengerti pasangan dan saling melengkapi pasangan. Tidak boleh ada keegoisan yang bisa menimbulkan perselisihan dan ada juga yang sampai berakhir perceraian.

Perceraian adalah terputusnya tali hubungan antara suami dan istri yang dalam hal ini disebut cerai hidup karena masing-masing saling gagal mempertahankan keluarga. Pernikahan kembali adalah menikah setelah bercerai dengan pasangan sebelumnya secara sah di mata negara dan agama. 

Single life- Lajang bukanlah suatu kejelekan. Kebanyakan orang menilai lajang adalah suatu aib dan ketidak beruntungan seseorang. Padahal banyak para single life menjadi pengusaha muda yang sukses dan malah lebih fokus dalam meraih tujuan yang sebenar-benarnya.

Rabu, 29 Mei 2013

Cinta dan Perkawinan - tulisan 3

Cinta dan Perkawinan

   Perkawinan atau dalam arti pernikahan adalah upacara pengikatan janji nikah yang dirayakan atau dilaksanakan oleh dua orang dengan maksud meresmikan ikatan perkawinan secara norma agama, norma hukum, dan norma sosial. Upacara pernikahan memiliki banyak ragam dan variasi menurut tradisi suku bangsa, budaya agama, maupun kelas sosial. Penggunaan adat atau aturan tertentu kadang-kadang berkaitan dengan aturan atau hukum agama tertentu pula. 

   Pengesahan secara hukum suatu pernikahan biasanya terjadi pada saat dokumen tertulis yang mencatatkan pernikahan ditanda-tangani. Upacara pernikahan sendiri biasanya merupakan acara yang dilangsungkan untuk melakukan upacara berdasarkan adat istiadat yang berlaku, dan kesempatan untuk merayakannya bersama teman dan keluarga Wanita dan pria yang sedang melangsungkan pernikahan dinamakan pengantin, dan setelah upacaranya selesai upacaranya selesai kemudian mereka dinamakan suami dan istri dalam ikatan perkawinan. 

   Cinta adalah sebuah emosi dan kasih sayang yang kuat dan ketertarikan pribadi. Dalam konteks filosofi cinta merupakan sifat yang mewarisi semua kebaikan, perasaan belas kasih dan kasih sayang. Pendapat lainnya, cinta adalah aksi atau kegiatan aktif yang dilakukan manusia terhadap objek lain, berupa pengorbanan diri, empati, perhatian, kasih sayang, membantu, menuruti perkataan, mengikuti, patuh dan mau melakukan apapun yang diinginkan oleh objek tersebut. (http://id.wikipedia.org/wiki/Cinta)

   Menurut Sternberg (dalam Sternberg & Bernes, 1988), cinta bukanlah suatu kesatuan yang tunggal melainkan gabungan dari berbagai perasaan, hasrat, dan pikiran yang terjadi secara bersamaan sehingga menghasilkan perasaan global yang dinamakan cinta. 

a. Bagaimana memilih pasangan ?

Memilih calon pendamping hidup tidaklah mudah, dan agama Islam memberikan beberapa petunjuk di antaranya:

Dalam memilih calon istri
- Hendaknya calon istri memiliki dasar pendidikan agama dan berakhlak baik karena wanita yang mengerti agama akan mengetahui tanggung jawabnya sebagai istri dan ibu. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW :

Dari Abu Hurairah ra. dan Nabi Muhammad  saw, bersabda : "Perempuan itu dinikahi karena empat perkara, karena hartanya, keturunannya, kecantikannya, dan karena agamanya, lalu pilihlah perempuan yang beragama niscaya kamu bahagia" (Muttafaqun 'Alaihi)

- Hendaklah calon istri itu penyayang dan banyak anak.

Nabi Muhammad SAW pernah bersabda :
dari Amas bin Malik, Rasullullah SAW bersabda ".....kawinilah perempuan penyayang dan banyak anak...." HR. Ahmad dan dishahihkan oleh Ibnu Hibban.

-Hendaknya memilih calon istri yang masih gadis terutama bagi pemuda yang belum pernah nikah.

Hal ini dimaksudkan untuk mencapai hikmah secara sempurna dan manfaat yang agung, diantara manfaat tersebut adalah memelihara keluarga dan hal-hal yang akan menyusahkan kehidupannya, menjerumuskan ke dalam berbagai perselisihan, dan menyebarkan polusi kesulitan dan permusuhan. Pada waktu yang sama akan mengeratkan tali cinta kasih suami istri. Sebab gadis itu akan memberikan sepenuhnya kehalusan dan kelembutannya kepada lelaki yang pertama kali melindungi, menemui, dan mengenalinya. Lain halnya dengan janda, kadangkala dari suami yang kedua ia tidak mendapatkan kelembutan hati yang sesungguhnya karena adanya perbedaan yang besar antara akhlak suami yang pertama dan kedua. 

- Mengutamakan orang jauh (dari kekerabatan) dalam perkawinan.

Hal ini dimaksudkan untuk keselamatan fisik anak keturunan dari penyakit-penyakit yang menular atau cacat secara hereditas. Sehingga anak tidak tumbuh besar dalam keadaan lemah atau mewarisi cacat kedua orang tuanya dan penyakit-penyakit nenek moyangnya. Disamping itu juga untuk memperluas pertalian kekeluargaan dan memererat ikatan-ikatan sosial. 

Memilikih calon suami :

-Islam 

Ini adalah kriteria yang sangat penting bagi seorang Muslimah dalam memilih calon suami sebab dengan islamlah satu-satunya jalan yang menjadikan kita selamat dunia dan akhirat kelak.

-Berilmu dan baik akhlaknya

Masa depan kehidupan suami istri erat kaitannya dengan memilih suami, maka islam memberi anjuran agar memilih akhlak yang baik, shalih, dan taat beragama. 

Kesimpulan nya, menurut saya pribadi, memilih pasangan haruslah :
1 satu keyakinan, dengan kesamaan keyakinan maka pasangan tidak akan ragu untuk melangkah dan menentukkan tujuan hidup yang lebih nyata .
2. Sehat secara rohani dan jasmani, secara rohani pasangan yang akan kita pilih haruslah sehat dalam arti melakukan semua perintah sesuai agamanya dan menjauhi larangan dari agamanya. Serta Sehat dalam Jasmani maksudnya adalah kesehatan pasangan akan sangat mempengaruhi kehidupan berkeluarga nanti kedepannya. Pasangan yang sehat, maka dapat menghasilkan keturunan yang baik secara Jasmani dan Rohani sehat pula. 
3. Berkelakuan yang bisa diterima keluarga dan orang-orang disekitar. Termasuk mencintai dua belah pihak keluarga, mau berteman dengan teman masing-masing pasangan, dan berkelakuan baik sesuai dengan aturan yang ada. 

b. Seluk Beluk Hubungan dalam Perkawinan

   Dalam kehidupan berkeluarga, semua pasangan mendambakan keluarga yang harmonis selamanya hingga akhir hayat. Namun mengapa ada saja percekcokan dan amarah?

   Dalam membina keluarga, setiap objek yang berpasangan adalah objek yang sama-sama belajar. Belajar dalam arti belajar menjadi dewasa, menjadi arif, menjadi bijaksana, menjadi paham. Dewasa dalam hubungan adalah saling mengerti, saling percaya, daling mendorong, saling membangun satu sama lain, Jika pasangan dalam keadaan kesulitan, sebagai pasangan kita harus turut memberi semangat bukannya amarah. Menjadi arif dan bijaksana dalam mengambil keputusan juga sangat diperlukan dalam hubungan suami istri. Mereka yang menjadi istri, harus patuh pada suami. Tapi bukan berarti suami menjadi semena-mena dalam mengatur istri. Suami harus arif dan bijak dalam hal kasih sayang,  membentuk norma-norma dalam keluarga, mengatur keuangan istri, memperhatikan kesehatan istri dan mau terus mendampingi dalam keadaan susah, senang,  miskin, kaya, sehat dan sakit. Semua yang dirundingkan dan disepakati bersama akan lebih menyenangkan dibandingkan dengan adu kekuatan pikiran yang hanya menimbulkan kemarahan dan percekcokan. 

c. Penyesuaian dan Pertumbuhan dalam perkawinan

   Perkawinan tidak berarti mengikat pasangan sepenuhnya. Dua individu ini harus dapat mengembangkan diri untuk kemajuan bersama. Keberhasilan dalam perkawinan tidak diukur dari ketergantungan pasangan. Perkawinan merupakan salah satu tahapan dalam hidup yang pasti diwarnai oleh perubahan. Dan perubahan yang terjadi dalam sebuah perkawinan, sering tak sederhana. Perubahan yang terjadi dalam perkawinan banyak terkait dengan terbentuknya relasi baru sebagai satu kesatuan serta terbentuknya hubungan antarkeluarga kedua pihak.
Relasi yang diharapkan dalam sebuah perkawinan tentu saja relasi yang erat dan hangat. Tapi karena adanya perbedaan kebiasaan atau persepsi antara suami-istri, selalu ada hal-hal yang dapat menimbulkan konflik. Dalam kondisi perkawinan seperti ini, tentu sulit mendapatkan sebuah keluarga yang harmonis.
Pada dasarnya, diperlukan penyesuaian diri dalam sebuah perkawinan, yang mencakup perubahan diri sendiri dan perubahan lingkungan. Bila hanya mengharap pihak pasangan yang berubah, berarti kita belum melakukan penyesuaian.
    Banyak yang bilang pertengkaran adalah bumbu dalam sebuah hubungan. Bahkan bisa menguatkan ikatan cinta. Hanya, tak semua pasangan mampu mengelola dengan baik sehingga kemarahan akan terakumulasi dan berpotensi merusak hubungan.
 
d. Perceraian dan Pernikahan Kembali 
 
Perceraian dalam tinjauan sosiologis adalah sebuah kajian yang membahas seluk beluk perceraian dari sudut pandang sosial kemasyarakatan (sosiologis). Secara sosiologis dalam teori pertukaran, perkawinan digambarkan sebagai pertukaran antara hak dan kewajiban serta penghargaan dan kehilangan yang terjadi antara suami dan istri (Karim dalam Ihromi, 1999). Sebuah perkawinan membutuhkan kesepakatan-kesepakatan bersama dalam mendukung proses pertukaran tersebut. Jika terdapat suatu ketidakseimbangan dalam proses pertukaran yang berarti adanya salah satu pihak yang diuntungkan dan dirugikan, serta akhirnya tidak mempunyai kesepakatan yang memuaskan ke dua belah pihak.
Perceraian merupakan terputusnya hubungan antara suami istri, yang dalam hal ini adalah cerai hidup yang disebabkan oleh kegagalan suami atau istri dalam menjalankan obligasi peran masing-masing. Dimana perceraian dipahami sebagai akhir dari ketidakstabilan perkawinan antara suami istri yang selanjutnya hidup secara terpisah dan diakui secara sah berdasarkan hukum yang berlaku.
Hubungan suami-istri juga dapat dilihat dan dibedakan berdasarkan pola perkawinan yang ada dalam masyarakat. Scanzoni dan Scanzoni (1981) mengkatagorikannya ke dalam empat bentuk pola perkawinan yaitu owner property, head complement, senior junior partner dan equal partner. Kestabilan keluarga tampak lebih kondusif berlangsung dalam pola perkawinan kedua dan ke tiga dimana posisi istri mulai berkembang menjadi pelengkap suami dan teman yang saling membantu dalam mengatur kehidupan bersama. Sementara itu hal sebaliknya dapat terjadi pada pola perkawinan equal partner.
Pengakuan hak persamaan kedudukan dengan pria menyebabkan semakin tidak tergantungnya istri pada suami. Istri mendapat dukungan dan pengakuan dari orang lain karena kemampuannya sendiri dan tidak dikaitkan dengan suami. Di antara ke empat pola ini menjelaskan tingkat perceraian cenderung lebih tinggi pada pola perkawinan owner properti. Oleh karena pola perkawinan owner property berasumsi bahwa istri adalah milik suami, seperti halnya barang-barang berharga lainnya di dalam keluarga itu yang merupakan miliki dan tanggung jawab suami. Istri sangat tergantung secara sosial ekonomi kepada suami. Akibat dari pola perkawinan seperti ini suami berhak menceraikan istrinya apabila tidak merasakan mendapat kepuasaan yang diinginkan ataupun tidak menyukai istrinya lagi.
Seperti yang terungkap dalam penelitian Fachrina (2006) mengenai Pandangan Masyarakat mengenai Perceraian (studi kasus cerai gugat pada masyarakat perkotaan), dimana masyarakat masih memposisikan pihak istri sebagai pihak yang bersalah apabila terjadi perceraian. Dalam hal ini istri dianggap menjadi penyebab perceraian. Mengapa pasangan ini bercerai, lebih cenderung dicermati sebagai akibat dari berbagai kekurangan dari pihak istri. Masyarakat masih menerima persepsi bahwa istri yang baik, menjadi idaman adalah istri yang mematuhi perintah suami dan mengurusi rumah tangga, serta merawat anak-anak, melayani dan menyiapkan keperluan suami.
Perubahan tingkat perceraian dan faktor penyebabnya, merupakan indikasi terjadinya perubahan sosial lainnya dalam masyarakat. Sistem sosial sedang bergerak cepat atau lambat ke arah suatu bentuk sistem keluarga konjugal dan juga ke arah industrialisasi. Perubahan sistem keluarga menyesuaikan diri pada kebutuhan industrialisasi. Dengan industrialisasi keluarga tradisional (sistem keluarga yang diperluas atau gabungan) sedang mengalami kehancuran, dimana keluarga konjugal (keluarga inti) cocok dengan kebutuhan industrialisasi (Goode, 2007)
Sanak saudara baik secara hubungan karena perkawinan ataupun karena hubungan darah secara relatif tidak diikut sertakan dalam pengambilan keputusan sehari-hari dalam keluarga konjugal. Setiap orang mempunyai kebebasan dan menentukan calon pasangan hidupnya sendiri dan selanjutnya pasangan suami istri lebih banyak berbuat terhadap kehidupan keluarga masing-masing. Keluarga luas tidak lagi menyangga pasangan suami istri, dan tidak banyak menerima bantuan dari kerabat, begitu juga sebaliknya. Keluarga luas lebih dapat bertahan daripada keluarga kecil yang terdiri dari suami, istri dan anak-anak. Oleh karena itu angka perceraian dalam sistem keluarga konjugal cenderung tinggi (Goode, 2007).
Dalam perkembangan sekarang ini dapat dikatakan bahwa masyarakat tidak memandang perceraian sebagai hal yang tabu, artinya perbuatan ini bukan sesuatu yang memalukan dan harus dihindari. Di sini Goode berpendapat bahwa penilaian atau pandangan yang menganggap perceraian sebagai suatu pernyataan kegagalan adalah bias. Sistem perkawinan adalah berasal dari perbedaan-perbedaan kepentingan, keinginan, kebutuhan,dan nafsu, serta dari latar belakang sosial budaya dan ekonomi yang juga berbeda. Ketegangan-ketegangan dan ketidakbahagian adalah lazim ada pada setiap perkawinan. Akhirnya pada tingkat tertentu masyarakat dapat memberikan toleransi umum dan memahami bahwa perceraian adalah merupakan salah satu langkah yang harus ditempuh bagi penyelesaian akhir dari perselisihan suami istri.
 Pernikahan kembali adalah menikah setelah bercerai dengan pasangan sebelumnya secara sah di mata negara dan agama. Menikah kembali bukanlah suatu hal yang mudah karena apapun kenangan bersama pasangan sebelumnya yang mungkin pernah menyakitinya pasti akan terkenang. Dan membangun kepercayaan dengan pasangan baru mungkin akan lebih sulit karena cerai berarti memiliki masa lalu yang dulu pernah jadi bagian dari hidup seorang yang bercerai. Namun tak sedikit juga yang menganggap enteng suatu perceraian dan hubungan baru, biasanya adalah orang yang menyepelekan sehingga keluarga nya kerap hancur. Maka dalam setiap keluarga perlu adanya pengakuan dan rasa di hormati.
 e.  Single Life

Lajang bukanlah suatu aib atau kejelekan. Buktinya banyak pengusaha muda yang sukses di usia muda dan belum memiliki pasangan. Mereka yang melajang lebih banyak dibutuhkan posisinya dalam suatu perusahaan karena mereka yang melajang lebih berkonsentrasi dan berpenampilan baik. Mengapa? karena mereka tidak memikirkan mereka harus masak apa hari ini untuk pasangannya? besok memberi kejutan apa? besok kencan di mana? dan kapan waktu untuk memanjakan diri sendiri itu kapan?

Terkadang seseorang yang sedang menjalani kehidupan sendiri lebih fokus dalam meraih tujuan yang sebenar-benarnya. Arus modernisasi dan gender membuat para perempuan Indonesia dapat menempati posisi yang setara bahkan melebihi pria. Bahkan sekarang banyak perempuan yang mempunyai penghasilan lebih besar dari pria. Ditambah dengan konsep pilihan melajang, terutama kota-kota besar, mendorong perempuan Indonesia untuk hidup sendiri.



Daftar Pustaka:

lontar.ui.ac.id/file?file=digital/20295591-S...pdf
http://hendriyana.abatasa.co.id/post/detail/20976/tips-oke-memilih-pasangan-hidup-menurut-islam.html http://nikahdancinta.blogspot.com/
http://natasha-ardelia-fpsi12.web.unair.ac.id/artikel_detail-62390-Umum-Hubungan%20Interpersonal,%20Kuliah%20Psikologi%20Umum.html
http://undangankipas.blogdetik.com/2013/01/05/tips-memilih-pasangan-hidup-bagi-yang-serius-ingin-menikah/
repository.usu.ac.id/bitstream/.../3/Chapter%20II.pdf
http://kritikuscinta.blogspot.com/2008/05/konseling-perkawinan.html

Hubungan Interpersonal - Tulisan 2


HUBUNGAN INTERPERSONAL 


a. Model-Model Hubungan Interpersonal 

Hubungan interpersonal memiliki pengertian yang berbeda tergantung dari sudut mana individu memandangnya. Ada empat buah model yang dapat digunakan untuk menganalisa hubungan interpersonal menurut Colleman dan Hammet (Rakhinat, 1991), meliputi :

a. Model Pertukaran Sosial (Social Exchange Model)

Model ini mendefinisikan hubungan interpersonal sebagai suatu transaksi dagang yang akan memberikan keuntungan bagi individu. Model ini mendorong individu memikirkan setiap keuntungan dan kerugian dari hubungan yang terjalin. Individu yang merasa tidak memperoleh keuntunganm sama sekali maka ia berusaha mencari hubungan yang lain yang memberinya keuntungan. Keuntungan dan kerugian ini dinilai berdasarkan tingkat perbandingan sebagai pengalaman masa lalu atau alternatif hubungan lain yang terbuka baginya.

b. Model Peranan (Role Model)

Hubungan interpersonal adalah oanggung sandiwara yang setiap orang harus memainkan perananya sesuai "naskah" yang dibuat masyarakat. Hubungan ini akan berkembang bila individu bertindak sesuai kewajiban atau tugas yang berkaitan dengan posisi tertentu, desakan sosial yang memaksa individu untuk memenuhi peranannya, kemampuan memerankan peranan tertentu, serta mampu menghindari konflik peranan bila individu tidak sanggup mempertemukan berbagai peranan yang kontradiktif

c. Model Permainan (Role Play Model)

Orang-orang yang berhubungan dengan bermacam-macam permainan. Yang mendasari permainan adalah tiga kepribadian manusia yaitu orang tua, orang dewasa, dan anak-anak. Kita menampilkan salah satu aspek kepribadian kita(orang tua, orang dewasa, anak-anak) dan orang lain membalasnya dengan salah satu aspek tersebut juga.

d. Model Interaksional

Memandang hubungan interpersonal sebagai suatu sistem. Semua sistem terdiri dari subsistem-subsistem yang saling tergantung dan bertindak bersama sebagai suatu kesatuan. Hubungan interpersonal dapat dipandang sebagai sistem dengan sifat-sifatnya. Setiap hubungan interpersonal harus dilihat dari tujuan bersama, metode komunikasi, ekspetasi dan pelaksanaan peranan, serta permainan yang dilakukan. Menggabungkan model pertukaran, peranan, dan permainan. 

b. Memulai Hubungan

Menurut Reis dan Patrick (1966 dalam Hewstone, Fincham dan Foster, 2005), orang akan mengidentifikasi hubungan yang menyenangkan  ketika:

a. Caring 

kita merasa orang lain cinta dan perhatian pada kita. Kita merasa senang jika teman sebaya kita memberikan perhatian kepada kita. Apabila kita engalami kesusahan dan teman kita berempati maka kita pasti akan merasa nyaman berteman dengan mereka.

b. Understanding

orang lain memahami kita. Hubungan yang menyenangkan akan terjadi apabila kita bisa saling memahami satu sama lain. Contohnya adalah ketika teman kita sedang berada di dituasi yang tidak mengenakan, kita harus memahaminya dengan cara tidak membuat suasana menjadi semakin runyam.

c. Validating 

orang lain menunjukkan penerimaannya pada kita. Contohnya adalah kita merasa nyaman berteman dengan teman kita karena memberikan respon terhadap apa yang kita lakukan dan menerima segala kelebihan dan kekurangan kita. 

tahap-tahap hubungan interpersonal :

Menurut Knapp, siklus hubungan terbagi menjadi :

1. Tahap Memulai (Initiating)

Merupakan usaha-usaha yang sangat awal yang kita lakukan dalam percakapan dengan seseorang yang baru kita kenal. Seperti contohnya ketika ingin berkenalan dengan teman baru, kita menanyakan namanya dan bagaimana kabarnya.

2. Tahap Penjajagan (Experimenting)

Merupakan fase dimana kita mencoba topik-topik percakapan untuk mengenal satu sama lain. Misalnya kita berbasa-basi dengan teman yang baru kita kenal. Ini bertujuan agar bisa mengetahui pribadi masing-masing.

3. Penggiatan (Intensifying)

Menandai awal keintiman, berbagai informasi pribadi dan awal informalitas yang lebih bedsar. Dalam fase ini seseorang sudah mulai menceritakan masalah pribadinya dan sudah mulai terbuka kepada temannya.

4. Pengintegrasian (Integrating)

Terjadi bila dua orang mulai menganggap diri mereka sebagai pasangan. Kedua secara aktif memupuk semua minat, sikap dam kualitas yang tampaknya membuat mereka unik sebagai pasangan. 

5. Pengikatan (Bounding)

adalah tahap yang lebih formal atau ritualistic, bisa berbentuk pertunangan atau perkawinan, namun "berhubungan tetap" juga merupakan suaut bentuk pengikatan. 

c. Intimacy dan Hubungan Pribadi  

Menurut Sternberg (1993) berpendapat bahwa suatu hubungan intim adalah sebuah ikatan emosional antara dua individu yang didasari oleh kesejahteraan satu sama lain, keinginan untuk memperlihatkan pribadi masing-masing yang terkadang lebih bersifat sensitif serta saling berbagi kegemaran dan aktivitas yang sama.

Sullivan (Prager, 1995) mendefinisikan intimasi sebagai bentuk tingkah laku penyesuaian seseorang untuk mengekspresikan akan kebutuhannya terhadap orang lain.  Intimasi juga adalah salah satu atribut yang paling menonkol dalam suatu hubungan intim daripada hubungan pribadi yang lain. 

Keintiman (Intimacy) sangat berkaitan dengan derajat kecintaan, kepercayaan, kepuasan, tanggung jawab dan pengertian pasanagan dalam hubungan yang dekat. Keintiman juga memberikan sumbangan besar dalam memenuhi kebutuhan individu dan keintiman itu pun memberikan efek positif pada kebaikan pasangan dalam suatu hubungan pertemanan (Prager & Buhrmester).

Hubungan pribadi atau yang sering digambarkan sebagai hubungan cinta antara dua orang. Cinta yang lengkap dan didambakan oleh banyak pasangan menurut Sternberg dalam model cintanya yaitu Consumate Love atau cinta yang didalamnya terdapat unsur Intimacy, Commitmen, dan Passion. Ketika dua orang dalam suatu hubungan pribadi yang hubungan nya penuh dengan gairah, kedekatan dan komitmen yang kuat maka hubungan tersebut sempurna. Tidak semua orang bisa merasakan Consumate Love, terkadang hanya terdiri dari passion dan intimacy saja tanpa komitmen atau bahkan hanya Passion saja tanpa Intimacy dan Komitmen.

d. Intimacy dan Pertumbuhan 

Menurut Havighrust (dalam Hurlock, 1999) dewasa dini memiliki tugas perkembangan sebagai berikut:
  • Mulai bekerja, 
  • Memilih pasangan
  • Belajar hidup dengan tunangan 
  • Mulai membina keluarga
  • Mengasuh anak 
  • Mengelola rumah tangga
  • Mengambil tanggung jawab sebagai warga negara
Intimacy sangat berhubungan dengan pertumbuhan seseorang di tahap dewasa awal. Erikson mengatakan bahwa tahap perkembangan psikososial dewasa awal adalah intimacy vs. isolation , sebagai salah satu tugas yang penting bagi dewasa dini (dalam Papalia,2004). Intimacy akan muncul saat seseorang sudah mencapai atau menemukan cara untuk membentuk dan mempertahankan identitas secara menetap, yang dilakukan dalam masa rema. Intimacy merupakan kemampuan seseorang untuk menyatukan identitas diri yang sudah ditemukan di masa remaja dengan identitas diri orang lain (Feist &Feist, 2002), Erikson menggambarkan intimacy sebagai sebuah proses menemukan identitas diri dan juga kehilangan identitas diri pada orang lain (dalam Santrock, 1998). Intimacy pada dewasa dini dapat ditemukan melalui hubungan intim yang dibentuk dengan pasangan romantisnya (pacar, suami atau istri) dan juga dengan sahabat (Papalia, 2004).

Individu dewasa dini yang tidak berhasil melaksanakan tugas psikososialnya, dalam menyatukan identitas diri sendiri dengan identitas diri oran glain melalui intimacy akan mengalami isolasi. Isolasi merupakan keadaan individu yang tidak memiliki kemampuan untuk menyatukan identitas diri sendiri dengan identitas diri orang lain melalui intimacy yang sebenarnya (Erikson dalam Feist &Feist, 2001). 

Pada saat individu dewasa dini berhasil membentuk hubungan intim yang sehat dengan orang lain, Intimacy akan tercapai, jika sebaliknya maka ia akan terisolasi. 



Daftar Pustaka :

http://adelia-gustitia-fpsi12.web.unair.ac.id/artikel_detail-62548-Psikoloi%20Umum%20I-Hubungan%20Interpersonal.html
http://arsip.uii.ac.id/files//2012/08/05.2-bab-2137.pdf
repository.usu.ac.id/bitstream/.../3/Chapter%20II.pdf



 

Senin, 27 Mei 2013

Tulisan 1 - Penyesuaian Diri dan Pertumbuhan

PENYESUAIAN DIRI DAN PERTUMBUHAN

a. Pengertian dan Konsep Penyesuaian Diri


   Penyesuaian diri adalah usaha manusia untuk mencapai harmoni pada diri sendiri dan pada lingkungannya. Sehingga rasa permusuhan, dengki, iri hati, prasangka, depresi, kemarahan dan lain-lain emosi negatif sebagai respon pribadi yang tidak sesuai dan kurang efisien bisa dikikis habis (Kartini Kartono, 2000:56)

   Makna akhir dari hasil pendidikan seorang individu terletak pada sejauh mana hal yang telah dipelajari dapat membantunya dalam penyesuaian diri dengan kebutuhan-kebutuhan hidupnya pada tuntutan masyarakat. Seseorang tidak dilahirkan dalam keadaan telah mampu menyesuaikan diri atau tidak mampu menyesuaikan diri, kondisi fisik, mental, dan emosional dipengaruhi dan diarahkan oleh faktor-faktor lingkungan dimana kemungkinan akan berkembang proses penyesuaian yang baik atau yang salah. Penyesuaian yang sempurna dapat terjadi jika manusia/ individu selalu dalam keadaan seimbang antara dirinya dengan lingkungannya, tidak ada lagi kebutuhan yang tidak terpenuhi, dan semua fungsi-fungsi organisme/ individu berjalan normal. Namun, penyesuaian diri lebih bersifat suatu proses sepanjang hayat, dan manusia terus menerus menemukan dan mengatasi tekanan dan tantangan hidup guna mencapai pribadi sebat. Penyesuaian diri adalah suatu proses. Kepribadian yang sehat ialah memiliki kemampuan untuk mengadakan penyesuaian diri secara harmonis, baik terhadap diri sendiri maupun terhadap lingkungannya.

    Penyesuaian diri juga bisa dipahami sebagai mengatur kembali ritme hidup atau jadwal harian. Orang yang memiliki penyesuaian diri yang baik adalah orang-orang yang dengan cepat mampu mengelola dirinya menghadapi perubahan-perubahan yang terjadi. Misalnya dia bisa belajar lebih giat, menyediakan waktu lebih banyak untuk belajar daripada kegiatan lain karena menjelang ujian. Atau dia bisa mematuhi nasehat dokter untuk mengatur pola dan jenis makanannya karena menderita diabetes.

   Penyesuaian diri juga sering dipahami sebagai belajar hidup dengan sesuatu yang tidak dapat diubah. Orang memiliki penyesuaian diri yang baik bila bisa menerima keterbatasan yang tidak dapat diubah. Misalnya, dia mampu menerima cacat fisik yang dialami sehabis kecelakaan sehingga bisa kembali melakukan aktifitas seperti sebelum kecelakaan tersebut terjadi.

   Dalam bahasa inggris, istilah penyesuaian diri memiliki dua kata yang berbeda maknanya, yaitu adaptasi (adaptation) dan penyesuaian (adjustment). Kedua istilah tersebut sama-sama mengacu pada pengertian mengenai penyesuaian diri, tetapi memiliki perbedaan makna yang mendasar. 

   Adaptasi memiliki pengertian individu melakukan penyesuaian diri dengan lingkungan. Pengertian ini lebih menekankan pada perubahan yang individu lakukan terhadap dirinya supaya tetap bisa sesuai dengan lingkungannya. Jadi pada adaptasi, diri individulah yang berubah untuk melakukan penyesuaian. Contoh sederhana dari adaptasi ini misalnya bila mneghadapi suhu yang panas, lalu individu membuka pakaiannya atau minum air dingin supaya tetap merasa nyaman. 

   Penyesuaian (adjustment) dipahami sebagai mengubah lingkungan agar menjadi lebih sesuai dengan diri individu. Pengertian ini lebih menekankan pada perubahan lingkungan yang dilakukan oleh individu sehingga tetap sesuai dengan dirinya. Misalnya, pada suhu yang panas, individu lalu memasang fan atau menyalakan air conditioner supaya suhu ruangan berubah seperti yang diinginkan. Pada contoh ini, individu tidak berubah tetapi lingkunganlah yang berubah.

b. Pengertian Pertumbuhan Personal

1. Penekanan Pertumbuhan Diri

   Pertumbuhan adalah perubahan secara fisiologis sebagai hasil dari proses pematangan fungsi-fungsi fisik yang berlangsung secara normal pada anak yang sehat pada waktu yang normal. Pertumbuhan dapat juga diartikan sebagai proses transmisi dari konstitusi fisik (keadaan tubuh atau keadaan jasmaniah) yang herediter dalam bentuk proses aktif secara berkesinambungan. Jadi, pertumbuhan berkaitan dengan perubahan kuantitatif yang menyangkut peningkatan ukuran dan struktur biologis.

   Secara umum konsep perkembangan dikemukakan oleh Werner (1957) bahwa perkembangan berjalan dengan prinsip orthogenesis. Perkembangan berlangsung dari keadaan global dan kurang berdeferensiasi sampai keadaan di mana diferensiasi, artikulasi, dan integrasi meningkat secara bertahap. Proses diferensiasi diartikan sebagai prinsip totalitas pada diri anak. Dari penghayatan totalitas itu lambat laun bagian-bagiannya akan menjadi semakin nyata dan bertambah jelas dalam kerangka keseluruhan.

2. Variasi dalam Pertumbuhan

  Tidak selamanya individu berhasil dalam melakukan penyesuaian diri, karena kadang-kadang ada rintangan-rintangan tertentu yang menyebabkan tidak berhasil melakukan penyesuaian diri. Rintangan-rintangan itu mungkin terdapat dalam diri nya atau mungkin di luar dirinya.

3. Kondisi-kondisi untuk Bertumbuh

   Shekdon mengemukakan bahwa terdapat korelasi yang tinggi antara tipe-tipe bentuk tubuh dan tipe-tipe tempramen (Surya, 1977). Misalnya orang yang tergolong ekstromof yaitu yang ototnya lemah, tubuhnya rapuh, ditandai dengan sifat-sifat menahan diri, segan dalam aktivitas sosial, dan pemilu. Kondisi jasmaniah seperti pembawa dan stuktur atau konstitusi fisik dan temperamen sebagai disposisi yang diwariskan, aspek perkembangannya secara intrinsik berkaitan erat dengan susunan atau konstitusi tubuh. Karena struktur jasmaniah merupakan kondisi primer bagi tingkah laku maka dapat diperkirakan bahwa sistem saraf, kelenjar dan otot dapat merupakan fakgtor yang penting bagi proses penyesuaian diri. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa gangguan dalam sistem saraf, kelenjar, dan otot dapat menimbulkan gejala-gejala gangguan mental, tingkah laku dan kepribadian. Dengan deminikian, kondisi sistem tubuh yang baik merupakan syaraf bagi tercapainya proses penyesuaian diri yang baik. Disamping itu, kesehatan dan penyakit jasmanisah juga berhubungan dengan penyesuaian diri, kualitas penyesuaian diri yang baik hanya dapat diperoleh dan dipelihara dalam kondisi kesehatan jasmaniah yang baik pula. Ini berarti bahwa gangguan penyakit jasmaniah yang diderita oleh seseorang akan mengganggu proses penyesuaian diri.

   Carl Roger (1961) menyebutkan 3 aspek yang memfasilitasi pertumbuhan personal dalam suatu hubungan :
  1. Keihlasan kemampuan untuk menyadari perasaan sendiri, atau menyadari kenyataan
  2. Menghormati keterpisahan dari orang lain tanpa kecuali, dan
  3. Keinginan yang terus-menerus untuk memahami atau berempati terhadap orang lain. 

Daftar Pustaka :

Kartono., A 2002. Psikologi Perkembangan. Rineka Cipta: Jakarta
Yustinus., E. 2006. Kesehatan Mental. Kanisius: Jakarta
Sundari., Siti. 2005. Kesehatan Mental. Rineka Cipta: Jakarta
Siswanto. 2007. Kesehatan Mental. ANDI: Yogyakarta.
http://chichamarshall.blogspot.com/2011/04/penyesuaian-diri-dan-pertumbuhan.html