Rabu, 29 Mei 2013

Cinta dan Perkawinan - tulisan 3

Cinta dan Perkawinan

   Perkawinan atau dalam arti pernikahan adalah upacara pengikatan janji nikah yang dirayakan atau dilaksanakan oleh dua orang dengan maksud meresmikan ikatan perkawinan secara norma agama, norma hukum, dan norma sosial. Upacara pernikahan memiliki banyak ragam dan variasi menurut tradisi suku bangsa, budaya agama, maupun kelas sosial. Penggunaan adat atau aturan tertentu kadang-kadang berkaitan dengan aturan atau hukum agama tertentu pula. 

   Pengesahan secara hukum suatu pernikahan biasanya terjadi pada saat dokumen tertulis yang mencatatkan pernikahan ditanda-tangani. Upacara pernikahan sendiri biasanya merupakan acara yang dilangsungkan untuk melakukan upacara berdasarkan adat istiadat yang berlaku, dan kesempatan untuk merayakannya bersama teman dan keluarga Wanita dan pria yang sedang melangsungkan pernikahan dinamakan pengantin, dan setelah upacaranya selesai upacaranya selesai kemudian mereka dinamakan suami dan istri dalam ikatan perkawinan. 

   Cinta adalah sebuah emosi dan kasih sayang yang kuat dan ketertarikan pribadi. Dalam konteks filosofi cinta merupakan sifat yang mewarisi semua kebaikan, perasaan belas kasih dan kasih sayang. Pendapat lainnya, cinta adalah aksi atau kegiatan aktif yang dilakukan manusia terhadap objek lain, berupa pengorbanan diri, empati, perhatian, kasih sayang, membantu, menuruti perkataan, mengikuti, patuh dan mau melakukan apapun yang diinginkan oleh objek tersebut. (http://id.wikipedia.org/wiki/Cinta)

   Menurut Sternberg (dalam Sternberg & Bernes, 1988), cinta bukanlah suatu kesatuan yang tunggal melainkan gabungan dari berbagai perasaan, hasrat, dan pikiran yang terjadi secara bersamaan sehingga menghasilkan perasaan global yang dinamakan cinta. 

a. Bagaimana memilih pasangan ?

Memilih calon pendamping hidup tidaklah mudah, dan agama Islam memberikan beberapa petunjuk di antaranya:

Dalam memilih calon istri
- Hendaknya calon istri memiliki dasar pendidikan agama dan berakhlak baik karena wanita yang mengerti agama akan mengetahui tanggung jawabnya sebagai istri dan ibu. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW :

Dari Abu Hurairah ra. dan Nabi Muhammad  saw, bersabda : "Perempuan itu dinikahi karena empat perkara, karena hartanya, keturunannya, kecantikannya, dan karena agamanya, lalu pilihlah perempuan yang beragama niscaya kamu bahagia" (Muttafaqun 'Alaihi)

- Hendaklah calon istri itu penyayang dan banyak anak.

Nabi Muhammad SAW pernah bersabda :
dari Amas bin Malik, Rasullullah SAW bersabda ".....kawinilah perempuan penyayang dan banyak anak...." HR. Ahmad dan dishahihkan oleh Ibnu Hibban.

-Hendaknya memilih calon istri yang masih gadis terutama bagi pemuda yang belum pernah nikah.

Hal ini dimaksudkan untuk mencapai hikmah secara sempurna dan manfaat yang agung, diantara manfaat tersebut adalah memelihara keluarga dan hal-hal yang akan menyusahkan kehidupannya, menjerumuskan ke dalam berbagai perselisihan, dan menyebarkan polusi kesulitan dan permusuhan. Pada waktu yang sama akan mengeratkan tali cinta kasih suami istri. Sebab gadis itu akan memberikan sepenuhnya kehalusan dan kelembutannya kepada lelaki yang pertama kali melindungi, menemui, dan mengenalinya. Lain halnya dengan janda, kadangkala dari suami yang kedua ia tidak mendapatkan kelembutan hati yang sesungguhnya karena adanya perbedaan yang besar antara akhlak suami yang pertama dan kedua. 

- Mengutamakan orang jauh (dari kekerabatan) dalam perkawinan.

Hal ini dimaksudkan untuk keselamatan fisik anak keturunan dari penyakit-penyakit yang menular atau cacat secara hereditas. Sehingga anak tidak tumbuh besar dalam keadaan lemah atau mewarisi cacat kedua orang tuanya dan penyakit-penyakit nenek moyangnya. Disamping itu juga untuk memperluas pertalian kekeluargaan dan memererat ikatan-ikatan sosial. 

Memilikih calon suami :

-Islam 

Ini adalah kriteria yang sangat penting bagi seorang Muslimah dalam memilih calon suami sebab dengan islamlah satu-satunya jalan yang menjadikan kita selamat dunia dan akhirat kelak.

-Berilmu dan baik akhlaknya

Masa depan kehidupan suami istri erat kaitannya dengan memilih suami, maka islam memberi anjuran agar memilih akhlak yang baik, shalih, dan taat beragama. 

Kesimpulan nya, menurut saya pribadi, memilih pasangan haruslah :
1 satu keyakinan, dengan kesamaan keyakinan maka pasangan tidak akan ragu untuk melangkah dan menentukkan tujuan hidup yang lebih nyata .
2. Sehat secara rohani dan jasmani, secara rohani pasangan yang akan kita pilih haruslah sehat dalam arti melakukan semua perintah sesuai agamanya dan menjauhi larangan dari agamanya. Serta Sehat dalam Jasmani maksudnya adalah kesehatan pasangan akan sangat mempengaruhi kehidupan berkeluarga nanti kedepannya. Pasangan yang sehat, maka dapat menghasilkan keturunan yang baik secara Jasmani dan Rohani sehat pula. 
3. Berkelakuan yang bisa diterima keluarga dan orang-orang disekitar. Termasuk mencintai dua belah pihak keluarga, mau berteman dengan teman masing-masing pasangan, dan berkelakuan baik sesuai dengan aturan yang ada. 

b. Seluk Beluk Hubungan dalam Perkawinan

   Dalam kehidupan berkeluarga, semua pasangan mendambakan keluarga yang harmonis selamanya hingga akhir hayat. Namun mengapa ada saja percekcokan dan amarah?

   Dalam membina keluarga, setiap objek yang berpasangan adalah objek yang sama-sama belajar. Belajar dalam arti belajar menjadi dewasa, menjadi arif, menjadi bijaksana, menjadi paham. Dewasa dalam hubungan adalah saling mengerti, saling percaya, daling mendorong, saling membangun satu sama lain, Jika pasangan dalam keadaan kesulitan, sebagai pasangan kita harus turut memberi semangat bukannya amarah. Menjadi arif dan bijaksana dalam mengambil keputusan juga sangat diperlukan dalam hubungan suami istri. Mereka yang menjadi istri, harus patuh pada suami. Tapi bukan berarti suami menjadi semena-mena dalam mengatur istri. Suami harus arif dan bijak dalam hal kasih sayang,  membentuk norma-norma dalam keluarga, mengatur keuangan istri, memperhatikan kesehatan istri dan mau terus mendampingi dalam keadaan susah, senang,  miskin, kaya, sehat dan sakit. Semua yang dirundingkan dan disepakati bersama akan lebih menyenangkan dibandingkan dengan adu kekuatan pikiran yang hanya menimbulkan kemarahan dan percekcokan. 

c. Penyesuaian dan Pertumbuhan dalam perkawinan

   Perkawinan tidak berarti mengikat pasangan sepenuhnya. Dua individu ini harus dapat mengembangkan diri untuk kemajuan bersama. Keberhasilan dalam perkawinan tidak diukur dari ketergantungan pasangan. Perkawinan merupakan salah satu tahapan dalam hidup yang pasti diwarnai oleh perubahan. Dan perubahan yang terjadi dalam sebuah perkawinan, sering tak sederhana. Perubahan yang terjadi dalam perkawinan banyak terkait dengan terbentuknya relasi baru sebagai satu kesatuan serta terbentuknya hubungan antarkeluarga kedua pihak.
Relasi yang diharapkan dalam sebuah perkawinan tentu saja relasi yang erat dan hangat. Tapi karena adanya perbedaan kebiasaan atau persepsi antara suami-istri, selalu ada hal-hal yang dapat menimbulkan konflik. Dalam kondisi perkawinan seperti ini, tentu sulit mendapatkan sebuah keluarga yang harmonis.
Pada dasarnya, diperlukan penyesuaian diri dalam sebuah perkawinan, yang mencakup perubahan diri sendiri dan perubahan lingkungan. Bila hanya mengharap pihak pasangan yang berubah, berarti kita belum melakukan penyesuaian.
    Banyak yang bilang pertengkaran adalah bumbu dalam sebuah hubungan. Bahkan bisa menguatkan ikatan cinta. Hanya, tak semua pasangan mampu mengelola dengan baik sehingga kemarahan akan terakumulasi dan berpotensi merusak hubungan.
 
d. Perceraian dan Pernikahan Kembali 
 
Perceraian dalam tinjauan sosiologis adalah sebuah kajian yang membahas seluk beluk perceraian dari sudut pandang sosial kemasyarakatan (sosiologis). Secara sosiologis dalam teori pertukaran, perkawinan digambarkan sebagai pertukaran antara hak dan kewajiban serta penghargaan dan kehilangan yang terjadi antara suami dan istri (Karim dalam Ihromi, 1999). Sebuah perkawinan membutuhkan kesepakatan-kesepakatan bersama dalam mendukung proses pertukaran tersebut. Jika terdapat suatu ketidakseimbangan dalam proses pertukaran yang berarti adanya salah satu pihak yang diuntungkan dan dirugikan, serta akhirnya tidak mempunyai kesepakatan yang memuaskan ke dua belah pihak.
Perceraian merupakan terputusnya hubungan antara suami istri, yang dalam hal ini adalah cerai hidup yang disebabkan oleh kegagalan suami atau istri dalam menjalankan obligasi peran masing-masing. Dimana perceraian dipahami sebagai akhir dari ketidakstabilan perkawinan antara suami istri yang selanjutnya hidup secara terpisah dan diakui secara sah berdasarkan hukum yang berlaku.
Hubungan suami-istri juga dapat dilihat dan dibedakan berdasarkan pola perkawinan yang ada dalam masyarakat. Scanzoni dan Scanzoni (1981) mengkatagorikannya ke dalam empat bentuk pola perkawinan yaitu owner property, head complement, senior junior partner dan equal partner. Kestabilan keluarga tampak lebih kondusif berlangsung dalam pola perkawinan kedua dan ke tiga dimana posisi istri mulai berkembang menjadi pelengkap suami dan teman yang saling membantu dalam mengatur kehidupan bersama. Sementara itu hal sebaliknya dapat terjadi pada pola perkawinan equal partner.
Pengakuan hak persamaan kedudukan dengan pria menyebabkan semakin tidak tergantungnya istri pada suami. Istri mendapat dukungan dan pengakuan dari orang lain karena kemampuannya sendiri dan tidak dikaitkan dengan suami. Di antara ke empat pola ini menjelaskan tingkat perceraian cenderung lebih tinggi pada pola perkawinan owner properti. Oleh karena pola perkawinan owner property berasumsi bahwa istri adalah milik suami, seperti halnya barang-barang berharga lainnya di dalam keluarga itu yang merupakan miliki dan tanggung jawab suami. Istri sangat tergantung secara sosial ekonomi kepada suami. Akibat dari pola perkawinan seperti ini suami berhak menceraikan istrinya apabila tidak merasakan mendapat kepuasaan yang diinginkan ataupun tidak menyukai istrinya lagi.
Seperti yang terungkap dalam penelitian Fachrina (2006) mengenai Pandangan Masyarakat mengenai Perceraian (studi kasus cerai gugat pada masyarakat perkotaan), dimana masyarakat masih memposisikan pihak istri sebagai pihak yang bersalah apabila terjadi perceraian. Dalam hal ini istri dianggap menjadi penyebab perceraian. Mengapa pasangan ini bercerai, lebih cenderung dicermati sebagai akibat dari berbagai kekurangan dari pihak istri. Masyarakat masih menerima persepsi bahwa istri yang baik, menjadi idaman adalah istri yang mematuhi perintah suami dan mengurusi rumah tangga, serta merawat anak-anak, melayani dan menyiapkan keperluan suami.
Perubahan tingkat perceraian dan faktor penyebabnya, merupakan indikasi terjadinya perubahan sosial lainnya dalam masyarakat. Sistem sosial sedang bergerak cepat atau lambat ke arah suatu bentuk sistem keluarga konjugal dan juga ke arah industrialisasi. Perubahan sistem keluarga menyesuaikan diri pada kebutuhan industrialisasi. Dengan industrialisasi keluarga tradisional (sistem keluarga yang diperluas atau gabungan) sedang mengalami kehancuran, dimana keluarga konjugal (keluarga inti) cocok dengan kebutuhan industrialisasi (Goode, 2007)
Sanak saudara baik secara hubungan karena perkawinan ataupun karena hubungan darah secara relatif tidak diikut sertakan dalam pengambilan keputusan sehari-hari dalam keluarga konjugal. Setiap orang mempunyai kebebasan dan menentukan calon pasangan hidupnya sendiri dan selanjutnya pasangan suami istri lebih banyak berbuat terhadap kehidupan keluarga masing-masing. Keluarga luas tidak lagi menyangga pasangan suami istri, dan tidak banyak menerima bantuan dari kerabat, begitu juga sebaliknya. Keluarga luas lebih dapat bertahan daripada keluarga kecil yang terdiri dari suami, istri dan anak-anak. Oleh karena itu angka perceraian dalam sistem keluarga konjugal cenderung tinggi (Goode, 2007).
Dalam perkembangan sekarang ini dapat dikatakan bahwa masyarakat tidak memandang perceraian sebagai hal yang tabu, artinya perbuatan ini bukan sesuatu yang memalukan dan harus dihindari. Di sini Goode berpendapat bahwa penilaian atau pandangan yang menganggap perceraian sebagai suatu pernyataan kegagalan adalah bias. Sistem perkawinan adalah berasal dari perbedaan-perbedaan kepentingan, keinginan, kebutuhan,dan nafsu, serta dari latar belakang sosial budaya dan ekonomi yang juga berbeda. Ketegangan-ketegangan dan ketidakbahagian adalah lazim ada pada setiap perkawinan. Akhirnya pada tingkat tertentu masyarakat dapat memberikan toleransi umum dan memahami bahwa perceraian adalah merupakan salah satu langkah yang harus ditempuh bagi penyelesaian akhir dari perselisihan suami istri.
 Pernikahan kembali adalah menikah setelah bercerai dengan pasangan sebelumnya secara sah di mata negara dan agama. Menikah kembali bukanlah suatu hal yang mudah karena apapun kenangan bersama pasangan sebelumnya yang mungkin pernah menyakitinya pasti akan terkenang. Dan membangun kepercayaan dengan pasangan baru mungkin akan lebih sulit karena cerai berarti memiliki masa lalu yang dulu pernah jadi bagian dari hidup seorang yang bercerai. Namun tak sedikit juga yang menganggap enteng suatu perceraian dan hubungan baru, biasanya adalah orang yang menyepelekan sehingga keluarga nya kerap hancur. Maka dalam setiap keluarga perlu adanya pengakuan dan rasa di hormati.
 e.  Single Life

Lajang bukanlah suatu aib atau kejelekan. Buktinya banyak pengusaha muda yang sukses di usia muda dan belum memiliki pasangan. Mereka yang melajang lebih banyak dibutuhkan posisinya dalam suatu perusahaan karena mereka yang melajang lebih berkonsentrasi dan berpenampilan baik. Mengapa? karena mereka tidak memikirkan mereka harus masak apa hari ini untuk pasangannya? besok memberi kejutan apa? besok kencan di mana? dan kapan waktu untuk memanjakan diri sendiri itu kapan?

Terkadang seseorang yang sedang menjalani kehidupan sendiri lebih fokus dalam meraih tujuan yang sebenar-benarnya. Arus modernisasi dan gender membuat para perempuan Indonesia dapat menempati posisi yang setara bahkan melebihi pria. Bahkan sekarang banyak perempuan yang mempunyai penghasilan lebih besar dari pria. Ditambah dengan konsep pilihan melajang, terutama kota-kota besar, mendorong perempuan Indonesia untuk hidup sendiri.



Daftar Pustaka:

lontar.ui.ac.id/file?file=digital/20295591-S...pdf
http://hendriyana.abatasa.co.id/post/detail/20976/tips-oke-memilih-pasangan-hidup-menurut-islam.html http://nikahdancinta.blogspot.com/
http://natasha-ardelia-fpsi12.web.unair.ac.id/artikel_detail-62390-Umum-Hubungan%20Interpersonal,%20Kuliah%20Psikologi%20Umum.html
http://undangankipas.blogdetik.com/2013/01/05/tips-memilih-pasangan-hidup-bagi-yang-serius-ingin-menikah/
repository.usu.ac.id/bitstream/.../3/Chapter%20II.pdf
http://kritikuscinta.blogspot.com/2008/05/konseling-perkawinan.html

Hubungan Interpersonal - Tulisan 2


HUBUNGAN INTERPERSONAL 


a. Model-Model Hubungan Interpersonal 

Hubungan interpersonal memiliki pengertian yang berbeda tergantung dari sudut mana individu memandangnya. Ada empat buah model yang dapat digunakan untuk menganalisa hubungan interpersonal menurut Colleman dan Hammet (Rakhinat, 1991), meliputi :

a. Model Pertukaran Sosial (Social Exchange Model)

Model ini mendefinisikan hubungan interpersonal sebagai suatu transaksi dagang yang akan memberikan keuntungan bagi individu. Model ini mendorong individu memikirkan setiap keuntungan dan kerugian dari hubungan yang terjalin. Individu yang merasa tidak memperoleh keuntunganm sama sekali maka ia berusaha mencari hubungan yang lain yang memberinya keuntungan. Keuntungan dan kerugian ini dinilai berdasarkan tingkat perbandingan sebagai pengalaman masa lalu atau alternatif hubungan lain yang terbuka baginya.

b. Model Peranan (Role Model)

Hubungan interpersonal adalah oanggung sandiwara yang setiap orang harus memainkan perananya sesuai "naskah" yang dibuat masyarakat. Hubungan ini akan berkembang bila individu bertindak sesuai kewajiban atau tugas yang berkaitan dengan posisi tertentu, desakan sosial yang memaksa individu untuk memenuhi peranannya, kemampuan memerankan peranan tertentu, serta mampu menghindari konflik peranan bila individu tidak sanggup mempertemukan berbagai peranan yang kontradiktif

c. Model Permainan (Role Play Model)

Orang-orang yang berhubungan dengan bermacam-macam permainan. Yang mendasari permainan adalah tiga kepribadian manusia yaitu orang tua, orang dewasa, dan anak-anak. Kita menampilkan salah satu aspek kepribadian kita(orang tua, orang dewasa, anak-anak) dan orang lain membalasnya dengan salah satu aspek tersebut juga.

d. Model Interaksional

Memandang hubungan interpersonal sebagai suatu sistem. Semua sistem terdiri dari subsistem-subsistem yang saling tergantung dan bertindak bersama sebagai suatu kesatuan. Hubungan interpersonal dapat dipandang sebagai sistem dengan sifat-sifatnya. Setiap hubungan interpersonal harus dilihat dari tujuan bersama, metode komunikasi, ekspetasi dan pelaksanaan peranan, serta permainan yang dilakukan. Menggabungkan model pertukaran, peranan, dan permainan. 

b. Memulai Hubungan

Menurut Reis dan Patrick (1966 dalam Hewstone, Fincham dan Foster, 2005), orang akan mengidentifikasi hubungan yang menyenangkan  ketika:

a. Caring 

kita merasa orang lain cinta dan perhatian pada kita. Kita merasa senang jika teman sebaya kita memberikan perhatian kepada kita. Apabila kita engalami kesusahan dan teman kita berempati maka kita pasti akan merasa nyaman berteman dengan mereka.

b. Understanding

orang lain memahami kita. Hubungan yang menyenangkan akan terjadi apabila kita bisa saling memahami satu sama lain. Contohnya adalah ketika teman kita sedang berada di dituasi yang tidak mengenakan, kita harus memahaminya dengan cara tidak membuat suasana menjadi semakin runyam.

c. Validating 

orang lain menunjukkan penerimaannya pada kita. Contohnya adalah kita merasa nyaman berteman dengan teman kita karena memberikan respon terhadap apa yang kita lakukan dan menerima segala kelebihan dan kekurangan kita. 

tahap-tahap hubungan interpersonal :

Menurut Knapp, siklus hubungan terbagi menjadi :

1. Tahap Memulai (Initiating)

Merupakan usaha-usaha yang sangat awal yang kita lakukan dalam percakapan dengan seseorang yang baru kita kenal. Seperti contohnya ketika ingin berkenalan dengan teman baru, kita menanyakan namanya dan bagaimana kabarnya.

2. Tahap Penjajagan (Experimenting)

Merupakan fase dimana kita mencoba topik-topik percakapan untuk mengenal satu sama lain. Misalnya kita berbasa-basi dengan teman yang baru kita kenal. Ini bertujuan agar bisa mengetahui pribadi masing-masing.

3. Penggiatan (Intensifying)

Menandai awal keintiman, berbagai informasi pribadi dan awal informalitas yang lebih bedsar. Dalam fase ini seseorang sudah mulai menceritakan masalah pribadinya dan sudah mulai terbuka kepada temannya.

4. Pengintegrasian (Integrating)

Terjadi bila dua orang mulai menganggap diri mereka sebagai pasangan. Kedua secara aktif memupuk semua minat, sikap dam kualitas yang tampaknya membuat mereka unik sebagai pasangan. 

5. Pengikatan (Bounding)

adalah tahap yang lebih formal atau ritualistic, bisa berbentuk pertunangan atau perkawinan, namun "berhubungan tetap" juga merupakan suaut bentuk pengikatan. 

c. Intimacy dan Hubungan Pribadi  

Menurut Sternberg (1993) berpendapat bahwa suatu hubungan intim adalah sebuah ikatan emosional antara dua individu yang didasari oleh kesejahteraan satu sama lain, keinginan untuk memperlihatkan pribadi masing-masing yang terkadang lebih bersifat sensitif serta saling berbagi kegemaran dan aktivitas yang sama.

Sullivan (Prager, 1995) mendefinisikan intimasi sebagai bentuk tingkah laku penyesuaian seseorang untuk mengekspresikan akan kebutuhannya terhadap orang lain.  Intimasi juga adalah salah satu atribut yang paling menonkol dalam suatu hubungan intim daripada hubungan pribadi yang lain. 

Keintiman (Intimacy) sangat berkaitan dengan derajat kecintaan, kepercayaan, kepuasan, tanggung jawab dan pengertian pasanagan dalam hubungan yang dekat. Keintiman juga memberikan sumbangan besar dalam memenuhi kebutuhan individu dan keintiman itu pun memberikan efek positif pada kebaikan pasangan dalam suatu hubungan pertemanan (Prager & Buhrmester).

Hubungan pribadi atau yang sering digambarkan sebagai hubungan cinta antara dua orang. Cinta yang lengkap dan didambakan oleh banyak pasangan menurut Sternberg dalam model cintanya yaitu Consumate Love atau cinta yang didalamnya terdapat unsur Intimacy, Commitmen, dan Passion. Ketika dua orang dalam suatu hubungan pribadi yang hubungan nya penuh dengan gairah, kedekatan dan komitmen yang kuat maka hubungan tersebut sempurna. Tidak semua orang bisa merasakan Consumate Love, terkadang hanya terdiri dari passion dan intimacy saja tanpa komitmen atau bahkan hanya Passion saja tanpa Intimacy dan Komitmen.

d. Intimacy dan Pertumbuhan 

Menurut Havighrust (dalam Hurlock, 1999) dewasa dini memiliki tugas perkembangan sebagai berikut:
  • Mulai bekerja, 
  • Memilih pasangan
  • Belajar hidup dengan tunangan 
  • Mulai membina keluarga
  • Mengasuh anak 
  • Mengelola rumah tangga
  • Mengambil tanggung jawab sebagai warga negara
Intimacy sangat berhubungan dengan pertumbuhan seseorang di tahap dewasa awal. Erikson mengatakan bahwa tahap perkembangan psikososial dewasa awal adalah intimacy vs. isolation , sebagai salah satu tugas yang penting bagi dewasa dini (dalam Papalia,2004). Intimacy akan muncul saat seseorang sudah mencapai atau menemukan cara untuk membentuk dan mempertahankan identitas secara menetap, yang dilakukan dalam masa rema. Intimacy merupakan kemampuan seseorang untuk menyatukan identitas diri yang sudah ditemukan di masa remaja dengan identitas diri orang lain (Feist &Feist, 2002), Erikson menggambarkan intimacy sebagai sebuah proses menemukan identitas diri dan juga kehilangan identitas diri pada orang lain (dalam Santrock, 1998). Intimacy pada dewasa dini dapat ditemukan melalui hubungan intim yang dibentuk dengan pasangan romantisnya (pacar, suami atau istri) dan juga dengan sahabat (Papalia, 2004).

Individu dewasa dini yang tidak berhasil melaksanakan tugas psikososialnya, dalam menyatukan identitas diri sendiri dengan identitas diri oran glain melalui intimacy akan mengalami isolasi. Isolasi merupakan keadaan individu yang tidak memiliki kemampuan untuk menyatukan identitas diri sendiri dengan identitas diri orang lain melalui intimacy yang sebenarnya (Erikson dalam Feist &Feist, 2001). 

Pada saat individu dewasa dini berhasil membentuk hubungan intim yang sehat dengan orang lain, Intimacy akan tercapai, jika sebaliknya maka ia akan terisolasi. 



Daftar Pustaka :

http://adelia-gustitia-fpsi12.web.unair.ac.id/artikel_detail-62548-Psikoloi%20Umum%20I-Hubungan%20Interpersonal.html
http://arsip.uii.ac.id/files//2012/08/05.2-bab-2137.pdf
repository.usu.ac.id/bitstream/.../3/Chapter%20II.pdf



 

Senin, 27 Mei 2013

Tulisan 1 - Penyesuaian Diri dan Pertumbuhan

PENYESUAIAN DIRI DAN PERTUMBUHAN

a. Pengertian dan Konsep Penyesuaian Diri


   Penyesuaian diri adalah usaha manusia untuk mencapai harmoni pada diri sendiri dan pada lingkungannya. Sehingga rasa permusuhan, dengki, iri hati, prasangka, depresi, kemarahan dan lain-lain emosi negatif sebagai respon pribadi yang tidak sesuai dan kurang efisien bisa dikikis habis (Kartini Kartono, 2000:56)

   Makna akhir dari hasil pendidikan seorang individu terletak pada sejauh mana hal yang telah dipelajari dapat membantunya dalam penyesuaian diri dengan kebutuhan-kebutuhan hidupnya pada tuntutan masyarakat. Seseorang tidak dilahirkan dalam keadaan telah mampu menyesuaikan diri atau tidak mampu menyesuaikan diri, kondisi fisik, mental, dan emosional dipengaruhi dan diarahkan oleh faktor-faktor lingkungan dimana kemungkinan akan berkembang proses penyesuaian yang baik atau yang salah. Penyesuaian yang sempurna dapat terjadi jika manusia/ individu selalu dalam keadaan seimbang antara dirinya dengan lingkungannya, tidak ada lagi kebutuhan yang tidak terpenuhi, dan semua fungsi-fungsi organisme/ individu berjalan normal. Namun, penyesuaian diri lebih bersifat suatu proses sepanjang hayat, dan manusia terus menerus menemukan dan mengatasi tekanan dan tantangan hidup guna mencapai pribadi sebat. Penyesuaian diri adalah suatu proses. Kepribadian yang sehat ialah memiliki kemampuan untuk mengadakan penyesuaian diri secara harmonis, baik terhadap diri sendiri maupun terhadap lingkungannya.

    Penyesuaian diri juga bisa dipahami sebagai mengatur kembali ritme hidup atau jadwal harian. Orang yang memiliki penyesuaian diri yang baik adalah orang-orang yang dengan cepat mampu mengelola dirinya menghadapi perubahan-perubahan yang terjadi. Misalnya dia bisa belajar lebih giat, menyediakan waktu lebih banyak untuk belajar daripada kegiatan lain karena menjelang ujian. Atau dia bisa mematuhi nasehat dokter untuk mengatur pola dan jenis makanannya karena menderita diabetes.

   Penyesuaian diri juga sering dipahami sebagai belajar hidup dengan sesuatu yang tidak dapat diubah. Orang memiliki penyesuaian diri yang baik bila bisa menerima keterbatasan yang tidak dapat diubah. Misalnya, dia mampu menerima cacat fisik yang dialami sehabis kecelakaan sehingga bisa kembali melakukan aktifitas seperti sebelum kecelakaan tersebut terjadi.

   Dalam bahasa inggris, istilah penyesuaian diri memiliki dua kata yang berbeda maknanya, yaitu adaptasi (adaptation) dan penyesuaian (adjustment). Kedua istilah tersebut sama-sama mengacu pada pengertian mengenai penyesuaian diri, tetapi memiliki perbedaan makna yang mendasar. 

   Adaptasi memiliki pengertian individu melakukan penyesuaian diri dengan lingkungan. Pengertian ini lebih menekankan pada perubahan yang individu lakukan terhadap dirinya supaya tetap bisa sesuai dengan lingkungannya. Jadi pada adaptasi, diri individulah yang berubah untuk melakukan penyesuaian. Contoh sederhana dari adaptasi ini misalnya bila mneghadapi suhu yang panas, lalu individu membuka pakaiannya atau minum air dingin supaya tetap merasa nyaman. 

   Penyesuaian (adjustment) dipahami sebagai mengubah lingkungan agar menjadi lebih sesuai dengan diri individu. Pengertian ini lebih menekankan pada perubahan lingkungan yang dilakukan oleh individu sehingga tetap sesuai dengan dirinya. Misalnya, pada suhu yang panas, individu lalu memasang fan atau menyalakan air conditioner supaya suhu ruangan berubah seperti yang diinginkan. Pada contoh ini, individu tidak berubah tetapi lingkunganlah yang berubah.

b. Pengertian Pertumbuhan Personal

1. Penekanan Pertumbuhan Diri

   Pertumbuhan adalah perubahan secara fisiologis sebagai hasil dari proses pematangan fungsi-fungsi fisik yang berlangsung secara normal pada anak yang sehat pada waktu yang normal. Pertumbuhan dapat juga diartikan sebagai proses transmisi dari konstitusi fisik (keadaan tubuh atau keadaan jasmaniah) yang herediter dalam bentuk proses aktif secara berkesinambungan. Jadi, pertumbuhan berkaitan dengan perubahan kuantitatif yang menyangkut peningkatan ukuran dan struktur biologis.

   Secara umum konsep perkembangan dikemukakan oleh Werner (1957) bahwa perkembangan berjalan dengan prinsip orthogenesis. Perkembangan berlangsung dari keadaan global dan kurang berdeferensiasi sampai keadaan di mana diferensiasi, artikulasi, dan integrasi meningkat secara bertahap. Proses diferensiasi diartikan sebagai prinsip totalitas pada diri anak. Dari penghayatan totalitas itu lambat laun bagian-bagiannya akan menjadi semakin nyata dan bertambah jelas dalam kerangka keseluruhan.

2. Variasi dalam Pertumbuhan

  Tidak selamanya individu berhasil dalam melakukan penyesuaian diri, karena kadang-kadang ada rintangan-rintangan tertentu yang menyebabkan tidak berhasil melakukan penyesuaian diri. Rintangan-rintangan itu mungkin terdapat dalam diri nya atau mungkin di luar dirinya.

3. Kondisi-kondisi untuk Bertumbuh

   Shekdon mengemukakan bahwa terdapat korelasi yang tinggi antara tipe-tipe bentuk tubuh dan tipe-tipe tempramen (Surya, 1977). Misalnya orang yang tergolong ekstromof yaitu yang ototnya lemah, tubuhnya rapuh, ditandai dengan sifat-sifat menahan diri, segan dalam aktivitas sosial, dan pemilu. Kondisi jasmaniah seperti pembawa dan stuktur atau konstitusi fisik dan temperamen sebagai disposisi yang diwariskan, aspek perkembangannya secara intrinsik berkaitan erat dengan susunan atau konstitusi tubuh. Karena struktur jasmaniah merupakan kondisi primer bagi tingkah laku maka dapat diperkirakan bahwa sistem saraf, kelenjar dan otot dapat merupakan fakgtor yang penting bagi proses penyesuaian diri. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa gangguan dalam sistem saraf, kelenjar, dan otot dapat menimbulkan gejala-gejala gangguan mental, tingkah laku dan kepribadian. Dengan deminikian, kondisi sistem tubuh yang baik merupakan syaraf bagi tercapainya proses penyesuaian diri yang baik. Disamping itu, kesehatan dan penyakit jasmanisah juga berhubungan dengan penyesuaian diri, kualitas penyesuaian diri yang baik hanya dapat diperoleh dan dipelihara dalam kondisi kesehatan jasmaniah yang baik pula. Ini berarti bahwa gangguan penyakit jasmaniah yang diderita oleh seseorang akan mengganggu proses penyesuaian diri.

   Carl Roger (1961) menyebutkan 3 aspek yang memfasilitasi pertumbuhan personal dalam suatu hubungan :
  1. Keihlasan kemampuan untuk menyadari perasaan sendiri, atau menyadari kenyataan
  2. Menghormati keterpisahan dari orang lain tanpa kecuali, dan
  3. Keinginan yang terus-menerus untuk memahami atau berempati terhadap orang lain. 

Daftar Pustaka :

Kartono., A 2002. Psikologi Perkembangan. Rineka Cipta: Jakarta
Yustinus., E. 2006. Kesehatan Mental. Kanisius: Jakarta
Sundari., Siti. 2005. Kesehatan Mental. Rineka Cipta: Jakarta
Siswanto. 2007. Kesehatan Mental. ANDI: Yogyakarta.
http://chichamarshall.blogspot.com/2011/04/penyesuaian-diri-dan-pertumbuhan.html







Senin, 29 April 2013

Tulisan 3: Koping

KOPING

Akibat stres berkepanjangan adalah terjadinya kelelahan baik fisik maupun mental, yang pada akhirnya melahirkan berbagai macam keluhan/gangguan. Individu menjadi sakit. Namun sering kali penyebab sakitnya tidak diketahui secara jelas karena individu yang bersangkutan tidak menyadari lagi tekanan/stres yang dialaminya. Tanpa disadari, individu menggunakan jenis penyesuaian diri yang kurang tepat dalam menghadapi stresnya.

Sebaliknya, bila individu mampu menggunakan cara-cara penyesuaian diri yang sehat/baik/sesuai dengan stres yang dihadapi, meskipun stres/tekanan tersebut tetap ada, indivu yang bersangkutan tetaplah dapat hidup secara sehat. Bahkan tekanan-tekanan tersebut akhirnyab justru akan memungkinkan individu untuk memunculkann potensi-potensimanusiawinya dengan optimal. Penyesuaian diri dalam menghadapi stres, dalam konsep kesehatan mental dikenal dikenal dengan sitilah koping (coping)

PENGERTIAN DAN JENIS COPING

Koping termasuk konsep sentral dalam memahami kesehatan mental. Koping berasal dari kata coping yang bermaknsa harafiah pengatatasan atau penanggulangan (to cope with: mengatasi, menanggulangi). Koping sering disamakan dengan adjustment (penyesuaian diri). Koping juga sering dimaknai sebagai cara untuk memecahkan masalah (problem solving). 

Lazarus membagi koping menjadi dua jenis, yaitu:
  1. Tindakan Langsung (Direct Action): setiap usaha tingkah laku yang dijalankan oleh individu untuk mengatasi kesakitan atau luka, ancaman atau tantangan dengan cara mengubah hubungan yang bermasalah dengan lingkungan. Individu menjalankan koping jenis direct action atau tindakan langsung bila dia melakukan perubahan posisi terhadap masalah yang dialaminya.
  2. Peredaan/Peringanan (Palliation): Jenis koping ini mengacu pada mengurangi/menghilangkan/menoleransi tekanan-tekanan ketubuhan/fisik, motorik atau gambaran afeki dari tekanan emosi yang dibangkitkan oleh lingkungan yang bermasalah. 
 
JENIS-JENIS KOPING
 
Harber & Runyon (1984) menyebutkan jenis-jenis koping yang dianggap konstruktif:
  • Penalaran (Reasoning): yaitu prnggunaan kemampuan kognitif untuk mengeksplorasi berbagai macam alternatif pemecahan masalah dan kemudia memilih salah satu alternatif yang dianggap paling menguntungkan. Individu secara sadar mengumpulkan berbagai informasi yang relevan berkaitan dengan persoalan yang dihadapi, kemudian membaut alternatif-alternatif pemecahannya, kemudia memilih alternatif yang paling menguntungkan dimana resiko kerugiannya paling kecil dan keuntungan yang diperoleh paling besar.
  • Objektifitas : yaitu kemampuan untuk membedakan antara komponen-komponen emosional dan logis dalam pemikiran, penalran maupun tingkah laku. 
  • Konsentrasi: Yaitu kemampuan untuk memusatkan perhatian secara penuh pada persoalan yang sedang dihadapi.
  • Humor: Yaitu kemampuan untuk melihat segi yang lucu dari persoalan yang sedang dihadapi, sehingga perspektif persoalan tersebut menjadi lebih luas, terang, dan tidak dirasa sebagai menekan lagi ketika dihadapi dengan humor.
  • Supresi : Yaitu kemampuan untuk menekan reaksi yang mendadak terhadap situasi yang ada sehingga memberikan cukup waktu untuk lebih menyadari dan memberikan rekasi yang lebih konstruktif.
  • Toleransi terhadap Kedwiartian atau Ambiguitas: yaitu kemampuan untuk memahami bahwa banyak hal dalam kehidupan yang bersifat tidak jelas dan oleh karenanya perlu memberikan ruang bagi ketidakjelasan tersebut.
  • Empati: Yaitu kemampuan untuk melihat sesuatu dari pandangan orang lain. Mencakup kemampuan untuk menghayati dan merasakan apa yang dihayati dan dirasakan oleh orang lain. 
 
APA (1994) yang menerbitkan DSM-IV juga menyebutkan sejumlah koping yang sehat yang merupakan bentuk penyesuaian diri yang paling tinggi dan paling baik (high adaptive level) dibandingkan dengan jenis koping lainnya, yaitu:           
 
  1. Antisipasi : berkaitan dengan kesiapan mental individu untuk menerima suatu perangsang. Ketika individu berharap dengan konflik-konflik emosional atau pemicu stres baik dari dalam maupun dari luar, dia mampu mengatisipasi akibat-akibat dari konflik atau stres tersebut.
  2. Afiliasi: berhubungan untuk berhubungan atau bersatu dengan orang lain dan bersahabt dengan mereka.
  3. Altruisme: merupakan salah satu bentuk kopingdengan cara mementingkan kepentingan orang lain.
  4. Penegasan Diri (Self Assertation) : individu berhadapan dengan konflik emosional yang menjadi pemicu stres dengan cara mengekspresikan perasaan-perasaan dan pikiran-pikirannya secara langsung tetapi dengan cara yang tidak memaksa atau memanipulasi orang lain.
  5. Pengamatan diri (Self Observation): Pemngamatan diri sejajar dengan introspeksi, yaitu individu melakukan pengujian secara objektif proses-proses kesadaran sendiri atau mengadakan pengamatan terhadap tingkah laku, motif, ciri, sifat sendiri dan seterusnya.
Siswanto. 2007. Kesehatan Mental : Konsep, Cakupan dan Perkembangan. Yogyakarta: Penerbit ANDI.      


Tulisan 2: Pengertian Stres

Pengertian Stress




 
(image from:  http://www.surelifehypnotherapy.co.uk/hypnotherapy-and-you/stress-anxiety)

Pada tingkat tertentu sebenarnya kita memerlukan stress. Stress yang optimal akan membuat motivasi menjadi tinggi, orang menjadi lebih bergairah, daya tangkap dan persepsi menjadi tajam, menjadi tenang, dan lain-lain. Adapun stress yang terlalu rendah akan mengakibatkan kebosanan, motivasi menjadi turun sering bolos, dan mengalami kelesuan. Sebaliknya stress yang terlalu tinggi mengakibatkan insomnia, lekas marah, meningkatnya kesalahan, kebimbangan, dan lain-lain. 

Stres juga harus dibedakan dengan stresor. Stresor adalah sesuatu yang menyebabkan stres. Stres itu sendiri adalah akibat dari interaksi(timbal-balik) antara rangsangan lingkungan dan respons individu. 

Terjadinya stres tergantung pada stresor dan tanggapan seseorang terhadap stresor tersebut. Stresor meliputi berbagai hal. Lingkungan fisik bisa menjadi sumber stresor, seperti suhu yang terlalu panas atau dingin, perubahan cuaca, cahaya yang terlalu terang atau gelap, suara yang terlalu bising dan polusi merupakan sumber-sumber potensial yang bisa menjadi stresor. Kepadatan juga bisa mengakibatkan stres. Penduduk yang tinggal di kampung-kampung yang kumuh yang biasanya membagi ruang geraknya dengan banyak orang lain, cenderung lebih mudah meledak dibanding dengan penduduk yang tinggal di area yang kurang padat.(Siswanto. 2007. Kesehatan Mental: Konsep, Cakupan, dan Perkembangan)

General Adaptation Syndrom (GAS)

Teori Sindrom Adaptasi Umum ini dikenalkan oleh Selye. Meskipun teorinya bersifat umum,, tapi teori ini cukup membantu untuk memahami reaksi individu terhadap stres. Selye berpendapat bahwa tubuh berekasi secara sama ketika menghadapi stres, tidak peduli apapun jenis stresornya. Jadi dengan kata lain reaksi pertahanan fisiologis yang dilakukan oleh tubuh ketika menghadapi stresor merupakan pola-pola reaksi yang universal/sama pada setiap orang. Reaksi pertahanan fisiologis ini bertujuan untuk melindungi organisme dan menjaga integritasnya supaya organisme tersebut tetap survive. Asumsi kedua yang dikemukakannya, bila stres berlangsung dalam jangka waktu yang lama sehingga reaksi pertahanan fisiologis juga berlangsung dalam waktu lama dan bahkan mengalami peningkatam, maka ini akan mengakibatkan terjadinya "penyakit adaptasi", yaitu penyakit atau gangguan yang terjadi sebagai akibat atau harga dari adaptasi yang dilakukan terhadap stres yang berkepanjangan tersebut. 

Tubuh memiliki tingkat resistensi normal, yaitu tingkat resistensi ketika tubuh dalam kondisi biasa (tidak menghadapi stres). Pada saat menghadapi stres tingkat resistensi ini  mengalami perubahan dengan tujuan agar mampu beradaptasi dengan stres yang dialami.

Bila stres berlangsung secara terus menerus karena stresornya tetap eksis, maka tingkat resistensi tubuh akan mengalami peningkatan di atas tingkat yang normal dengan tujuan untuk melakukan adaptasi terhadap stresor tersebut sehingga individunya bisa berfungsi dengan optimal. (Siswanto. 2007. Kesehatan Mental: Konsep, Cakupan dan Perkembangannya. Yogyakarta: Penerbit ANDI. 51-54)

Tipe-Tipe Stres  
  1. Frustrasi :  Frustration atau frustasi lazim disebut pula frustasi . Artinya, hambatan, kegagalan, rintangan,. Definisi menurut Katz B, and Lehner G.F.J., Frustration has been defined: as the blocking of a desire or needFrustrasi merupakan rintangan terhadap dorongan atau kebutuhan, dorongan manusia yang banyak sekali jumlahnya, sudah selayaknyalah bahwa semua itu tidak dapat dipenuhi secara bersama-sama, ada pula yang tidak dapat dipenuhi secara wajar. Abe Arkoff juga memberi definisi sebagai berikut :   
    Frustation is a process which our behaviour is blocked. Bahwa frustasi itu suatu proses dimana tingkah laku kita terhalang. Oleh karena kebutuhan, manusia bertindak atau berbuat atau bertingkah laku untuk mencapai tujuan yaitu melayani kebutuhan yang sesuai dengan dorongan. Selain itu Arkoff menambahkan lagi:
    Frustration is as the state of feeling which accompanied the thwartin. Frustrasi itu suatu keadaan perasaan yang disertai proses rintangan.
    Kebutuhan atau dorongan manusia yang bersifat fundamental  itu menimbulkan ia bertingkah laku/berbuat dalam bentuk apapun untuk mencapai tujuan sering mendapat halangan atau kekecewaan. Maka dapat dikatakan, bahwa dalam mengalami frustrasi sangat tergantung pada tanggapan masing-masing terhadap situasi atau keadaan dan cara-cara mengekpresikan frustrasi itu. Misalnya sesuatu keadaan atau situasi membuat dua orang sama-sama mengalami frustrasi, sebenrarnya mereka mempunyai dasar pengalaman yang berbeda sehingga tingkah laku mereka selanjutnyapun akan berbeda. Perasaan-perasaan frustrasi itu bermacam-macam kualitas dan kuantitasnya. Jarak dan dalamnya suatu keputus-asaan, kemarahan ataupun kasih sayang kadang-kadang merupakan peristiwa yang menyenangkan serta membantu memberi kekuatan dan memberikan rangsang.

  2. Konflik
    Konflik (conflict) disebut pula pertentangan batin. Abe Arkoff dalam bukunya menjelaskan A conflict involves a competition among several patterns oh behaviour. 

    Konflik suatu persaingan antara berbagai pola-pola perbuatan selain itu:
    Conflict is as a state feeling accompanying tghe processof conflict. Konflik sebagai suatu keadaan perasaan yang disertai proses pertentangan. Sebagaimana frustrasi, konflik adalah pertentangan hambatan terhadap tercapainya suatu tujuan 

    Menurut Morgan dalam buku Lazarus (1961) bahwa konflik dua hal yang sama-sama diminati disebut approach-approach conflict. Semua yang bernilai positif dapat disebut konflik angguk-angguk, karena semuanya diingini, sehingga yang bersangkutan menjadi bingung. 

    Bila seseorang menghadapi suatu hal, tetapi mempunyai satu sisi sangat diminati dan sisi lainnya yang sangat tak disenangi disebut approach avoidance conflict. Dapat disebut konflik angguk-geleng, sehingga yang bersangkutan  juga bingung. 

    Hal yang positif akan dihambat oleh yang negatif. Kadang-kadang tidak hanya satu permasalahan yang dihadapi sehingga kebingungannya bertubi-tubi. 

    Selanjutnya bila menghadapi dua hal yang bernilai negatif. Dua hal yang kedua-duanya tidak diminati, tidak diingini, namun harus dihadapi, disebut avoidance-avoidance conflict. Karena semuanya bernilai negatif, dapat dikatakan pula konflik geleng-geleng, dan karena terlalu bingung maka cenderung melarikan diri (to leave the field).(Sundari, Siti. 2005. Kesehatan Mental dalam Kehidupan. Jakarta: PT Rineka Cipta)

  3. Tekanan  
    Tekanan berlaku apabila unsur-unsur yang mendesak atau menekan melebihi keupayaan kita untuk menanganiny. Tekanan yang sederhana boleh menjadi suatu bentuk dorongan yang kuat. Ia dapat menolong tubuh dan mind kita untuk bekerja dengan baik dan menyumbang kepada kesehatan mental. Cara kita menangani tekanan yang dihadapi amat penting dalam menentukan kesehatan mental dan fisikal. 

    Tekanan luar biasa yang berkepanjangan dan keterlaluan merupakan sesuatu yang merisaukan. Ia mempunyai kesan-lesan psikologi yang negatif dan memberi kesan buruk kepada jantung dan rangka otot. Hal ini akan membawa kepada beberapa penyakit seperti sakit perut, tekanan darah tinggi dan migran. (http://pmr.penerangan.gov.my/index.php/sosial/622-pengenalan.html)

  4. Kecemasan (Anxiety)
    Dalam kehidupan sekarang ini sering dikatakan "age of anxiety" abad kecemasan. Tetapi sepanjang sejarah kehidupan manusia terjadi kecemasan. Kecemasan, ketakutan adalah merupakan bagian dari kehidupan manusia. Kecemasan, dijelaskan oleh Abe Arkoff sebagai berikut: Anxiety as a state of arousal caused by threat to well-being.  

    Macam-macam kecemasan:
    1. Kecemasan karena merasa berdosa atau bersalah. Misalnya seseorang melakukan sesuatu yang bertentangan dengan hati nuraninya atau keyakinanny. Seorang pelajar/mahasiswa menyontek, pada waktu pengawas ujian lewat di depannya berkeringat dingin, takut diketahui.
    2. Kecemasan karena akibat melihat dan mengetahui bahaya yang mengancam dirinya. Misalnya kendaraan yang dinaiki remnya macet, menjadi cemas kalau terjadi tabrakan beruntun dan ia sebagai penyebabnya.
    3. Kecemasan dalam bentuk yang kurang jelas, apa yang ditakuti tidak seimbang, bahkan yang ditakuti itu hal/benda yang tidak berbahaya. Rasa takut sebenarnya suatu perbuatan yang biasa atau wajar kalau ada sesuatu yang ditakuti dan seimbang. Bila takut yang sangat, luar biasa dan tidak sesuai terhadap objek yang ditakuti seperti patologis yang disebut phobia. Phobia adalah rasa takut yang sangat atau berlebihan terhadap sesatu yang tidak diketahui lagi penyebabnya. (Sundari, Siti. 2005. Kesehatan Mental dalam Kehidupan. Jakarta: PT Rineka Cipta)


    Symptom Reducing Responses  terhadap Stres
Respon terhadapt stress berhubungan dengan mekanisme pertahanan diri (defence mechanism). Mekanisme Pertahanan ada yang bersifat positif dan ada pula yang negatif.
  1. Kompensasi :
    Kompensasi atau compensation dari kata compensate artinya mengganti kerugian, atau mengisi kekurangan. Bentuk kompensasi itu adalah: kompensasi langsung, kompensasi tidak langsung dan kompensasi berlebihan.
  2. Sublimasi : atau sublimation  dari kata sublimateartinya nmemperhalus atau memperindah. Dalam mekanisme pertahanan berarti menyalurkan dan memperhalus dorongan-dorongan yang bersifat egoistis, nafsu-nafsu animal dan dorongan-dorongan yang kurang sehat. Sehingga dapat diterima oleh masyarakat secara baik karena bermanfaat dan tidak bersifat mengganggu. Contohnya, seorang yang gagal dalam percintaan, mencurahkan kasih sayang untuk mengasuh anak-anak yatim piatu.
  3. Melamun : Day dreaming dari day dream artinya melamun atau merenung yang bersangkutan lari dari kenyataan menghindari probelm ke alam khayalan. Seolah-olah ia telah melakukan apa ang diinginkan itu, ia telah merasa mendapat sukses.
  4. Rasionalisasi : Rasionalitation atau rasionalisasi dari kata ratio atau akal, masuk akal. Rasionalisasi adalah mengisi kekurangan dengan menutup kesalahan/rintangan. Hal yang tidak masuk akal dengan alasan-alasan diubah menjadi masuk akal agar dapat memuaskan harga dirinya, serta diakui oleh masyarakat.
  5. Identifikasi : Identification atau identifikasi, pengertian indentifikasi hampir sama dengan menitu. Seseorang yang mengalami kegagalan meniru atau menyamakan dirinya dengan orang lain yang mencapai sukses.Bila orang lain mengalami sukses ia ikut merasakan seolah-olah ia yang mendapat sukses, hingga ia merasa puas dan bahagia. Kepuasan yang dicapai ini sebenarnya kepuasan semu.
  6. Proyeksi : Projection atau proyeksi, suatu usaha untuk memproyeksikan atau melemparkan kekurangan diri sendiri kepada orang lain. Jadi kesalahan atau kekurangan sendiri dipantulkan pada pihak lain.
  7. Represi: Repression atau represi, suatu usaha menghilangkan kekecewaan atau kekurangan dengan jalan melupakannya. Yaitu apa yang disadari itu dimasukkan ke dalam alam tak sadar, bahkan dapat pingsan dalam beberapa waktu.
  8. Regresi : Regression atau regresi artinya kembali ketingkat sebelumnya (mundur). Regresi adalah suatu usaha untuk menghilangkan kesusahan, kesukaran atau kekecewaan dengan jalan kembali ketingkat perkembangan sebelumnya, sebab pada masa perkembangan yang dialami mendapat kesukaran ia menangis, akhirnya segera diperhatikan dan dilayani oleh orang tuanya dan ia mendapat kepuasan.
  9. Pemindahan: Displacement atau pemindahan, suatu usaha untuk menghilangkan kesusahan. kekecewaan dengan jalan memindahkan pada objek lain.
  10. Dissosiasi : Dissociation atau disosialisasi. Suatu usaha untuk menghilangkan kesusahan atau kekecewaan dengan jalan melarikan diri dari hal-hal yang tidak menyenangkandengan cara yang tidak masuk akal.
  11. Fiksasi: Fixation atau fiksasi artinya pembatasan. Suatu usaha untuk menghilangkan kekecewaan dengan membatasi tingkah laku tertentu yang khas yang memberi keamanan
  12. Konversi: Conversion atau konversi, suatu usaha untuk menghilangan kekecewaan atau kegagalan-kegagalan dengan jalan mempersangat keadaan sakit.
  13. Isolasi: atau Isolation  adalah usaha menghilangkan perasaan yang mengikuti situasi menyakitkan. Misalnya karena kematian ibunya, rasa sedih dan penyesalan dikatakan, ibu telah bahagia di sana. Jadi situasi yang menyakitkan diisolasikan (Sundari, Siti. 2005. Kesehatan Mental dalam Kehidupan. Jakarta: PT. Rineka Cipta)

Pendekatan Problem Solving

Ada berbagai cara untuk mengatasi stres. Kalau akibat stres telah memengaruhi fisik dan bahkan menimbulkan penyakit tertentu, peranan obat/medikasi biasanya diperlukan. Namun obat itu sendiri kurang efektif untuk mengatasi stres dalam jangka panjang. Ada efek negatif bila menggunakan obat terus-menerus. Disamping obat tertentu membutuhkan biaya mahal, obat juga bisa mengakibatkan ketergantungan dan bahkan membuat orang tertentu kebal terhadap obat tertentu.

Beberapa teknik terapi telah dikembangkan dan dicobakan untuk mengatasi stres ini. Biofeedback adalah suatu teknik untuk mengetahui bagian-bagian tubuh mana yang terkena stres dan kemudian belajar untukmenguasainya. Teknik ini menggunakan serangkaian alat yang cukup rumit, gunanya sebagai feedback atau umpan balik terhadap bagian tubuh tertentu. Biofeedback agak kurang efektif untuk digunakan secara praktis. 

Seringkali istirahat dan melakukan olahraga yang teraturdisebut-sebut sebagai salah satu cara yang efektif untuk mencegah dan menyembuhkan stres. Memang cara hidup yang teratur membuat seseorang tidak mudah terkena stres. 

Relaksasi adalah teknik yang paling efektif untuk menyembuhkan stres. Ada berbagai teknik relaksasi, tetapi yang biasa digunakan adalah teknik relaksasi dengan mengendurkan otot-otot seluruh tubuh, kemudian pengendoran dilakukan pada bagian-bagian tubuh yang sering mengalami stres. Semakin lama berlatih teknik relaksasi, orang akan semakin peka dan semakin spontan untuk dapat merasakan bagian tubuh yang mana yang terkena stres dan semakin mudah untuk mengembalikan pada keadaan semula.  (Siswanto. 2007.Kesehatan Mental: Konsep, Cakupan, dan Perkembangannya. Yogyakarta: Penerbit ANDI)